Menu

Dark Mode
Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

Kabar Lifestyle

BRIN Ungkap Indonesia Rawan Sinkhole, Ini Wilayah yang Paling Berisiko

badge-check


					Foto: Warga melihat dari jauh sinkhole di Nagari Situjua Batua, Limapuluh Kota, Sumbar. (Antara/Fandi Yogari) Perbesar

Foto: Warga melihat dari jauh sinkhole di Nagari Situjua Batua, Limapuluh Kota, Sumbar. (Antara/Fandi Yogari)

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia tergolong rawan mengalami sinkhole atau lubang runtuhan tanah, terutama di wilayah yang tersusun oleh lapisan batugamping (karst).

Fenomena ini berpotensi menimbulkan bahaya serius karena kerap terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda jelas di permukaan.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan kejadian sinkhole relatif sering ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia yang memiliki bentang alam karst. Beberapa wilayah yang dikenal rawan antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros.

Menurut Adrin, risiko sinkhole perlu menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan permukiman di kawasan batugamping.

Adrin menerangkan bahwa sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah. Proses pembentukannya berlangsung dalam waktu lama dan sulit terdeteksi secara kasat mata.

“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelas Adrin dikutip dari website BRIN, Senin (19/1/2026).

Seiring waktu, air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya. Saat hujan lebat terjadi, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga akhirnya runtuh.

“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” kata Adrin.

Sulit Dideteksi, Tapi Bisa Diantisipasi

Salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole, menurut Adrin, adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah.

Namun demikian, keberadaan rongga batugamping sebenarnya dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.

“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” tuturnya.

Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda awal yang patut diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.

“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” ujar Adrin.

Air Sinkhole

Terkait air yang sering ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menegaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Karena itu, kelayakannya untuk dikonsumsi tidak dapat langsung disimpulkan.

“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” ungkapnya.

Untuk mencegah pembentukan sinkhole di daerah batugamping, Adrin menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah cement grouting, yaitu teknik menginjeksi semen, mortar, atau bahan kimia tertentu ke dalam rongga bawah tanah.

“Injeksi material grouting menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dipantau dengan cermat agar tidak merusak struktur batuan di sekitar rongga. Lalu dilalukan pengecekan efektifitas grouting melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya untuk memastikan rongga sudah terisi dan stabilitas lapisan batuan sudah meningkat,” papar Adrin.

Ia berharap masyarakat serta pemerintah daerah di kawasan rawan sinkhole dapat meningkatkan kewaspadaan dan memanfaatkan kajian geologi serta survei geofisika sebagai dasar perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko bencana geologi di Indonesia.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Ramai Bill Gates dan Jeffrey Epstein Rencanakan Pandemi, Ini Faktanya

4 February 2026 - 13:14 WIB

Meta Dituduh Jadi Sarang Predator dan Eksploitasi Anak

4 February 2026 - 13:11 WIB

Laba-laba Madagascar Bikin Takjub, Buat Jaring Super Kuat hingga 25 Meter

3 February 2026 - 11:47 WIB

Trending on Kabar Lifestyle