Menu

Dark Mode
Pabrik Terafab Milik Elon Musk Akan Jadi Gedung Terbesar Dunia Rayakan HUT RI ke-81, Mahasiswa Binus Gelar Upacara Bendera Virtual di Roblox Gempa Dahsyat NTT Bikin 794 BTS Terganggu, Menkomdigi Ungkap Kondisi Terbaru Taiwan Diserang Hacker Pakai AI, Puluhan Akun Pemerintah Dibobol Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028 200 BTS Alami Gangguan Akibat Gempa NTT, Pemulihan Dikebut

Kabar Lifestyle

Banyak Perusahaan Indonesia Sudah Pakai AI, Tapi Belum Punya Strategi

badge-check


					Banyak Perusahaan Indonesia Sudah Pakai AI, Tapi Belum Punya 
Strategi. (Foto: Rachmatunisa)
Perbesar

Banyak Perusahaan Indonesia Sudah Pakai AI, Tapi Belum Punya Strategi. (Foto: Rachmatunisa)

Perusahaan di Indonesia dinilai termasuk yang paling agresif mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Namun di balik tingginya adopsi tersebut, Amazon Web Services (AWS) melihat masih banyak organisasi yang belum memiliki fondasi tata kelola AI yang memadai.

Nandini Ramani, Vice President Governance and Compliance AWS, mengatakan sekitar 40% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI. Namun, hanya 24% yang sudah memiliki strategi AI formal dan sekitar 21% yang menerapkan tata kelola data (data governance).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan karena AI tidak lagi sekadar proyek teknologi, melainkan sudah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan.

“Jika tidak memiliki strategi, data governance, dan keamanan sejak awal, Anda hanya akan mempercepat masalah yang sudah ada,” ujar Nandini dalam wawancara eksklusif dengan sejumlah media di sela AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Ia menilai banyak organisasi masih berlomba menjadi yang tercepat mengadopsi AI. Padahal, tanpa guardrails atau pagar pengaman yang jelas, kecepatan justru dapat meningkatkan risiko keamanan.

Menurut Nandini, perusahaan sebaiknya membangun observability, data governance, serta mekanisme keamanan sejak awal pengembangan aplikasi AI, bukan setelah aplikasi digunakan.

Ia menambahkan, AI saat ini berkembang jauh lebih cepat dibanding siklus teknologi sebelumnya. Karena itu, pendekatan keamanan juga harus berubah.

Meski mengingatkan pentingnya tata kelola AI, Nandini justru memuji keberanian perusahaan Indonesia dalam mengadopsi teknologi tersebut.
Menurutnya, perusahaan di Indonesia termasuk yang paling progresif dibanding banyak negara lain.

“Saya terkesan melihat perusahaan Indonesia berani membangun ulang sistem mereka menggunakan AI. Bahkan sektor yang sangat teregulasi seperti perbankan dan kesehatan sudah melangkah lebih cepat. Itu menunjukkan Indonesia berada di depan dibanding banyak negara lain dalam adopsi AI,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan langkah berikutnya bukan sekadar memperluas penggunaan AI, melainkan memastikan setiap implementasi memiliki strategi bisnis, tata kelola data, dan keamanan yang kuat agar manfaat AI dapat berkelanjutan.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pabrik Terafab Milik Elon Musk Akan Jadi Gedung Terbesar Dunia

17 August 2026 - 22:05 WIB

Rayakan HUT RI ke-81, Mahasiswa Binus Gelar Upacara Bendera Virtual di Roblox

17 August 2026 - 22:03 WIB

Gempa Dahsyat NTT Bikin 794 BTS Terganggu, Menkomdigi Ungkap Kondisi Terbaru

17 August 2026 - 21:59 WIB

Taiwan Diserang Hacker Pakai AI, Puluhan Akun Pemerintah Dibobol

17 August 2026 - 21:55 WIB

Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028

15 August 2026 - 17:10 WIB

Trending on Kabar Lifestyle