Kota Bogor – Kota Bogor menjadi lokus dilaksanakannya Asia and South Pacific Ostomy Association
(ASPOA) Conference dan Diabetes Wound Expo (DWE) 2026 di IPB International Convention Center (IPB ICC), Sabtu (7/11/2026).
Mengusung tema Empowering Care Through Knowledge, Connection, and Compassion, kegiatan ini dibuka langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.

Dalam sambutannya, Dedie Rachim menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bermutu bertumpu pada pengetahuan, jejaring, dan kasih sayang.
Penyandang ostomi menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi fisik, stigma, kurangnya rasa percaya diri, hingga hambatan dalam bersekolah, bekerja, beribadah, dan bersosialisasi.
Melalui semangat Bogor Sayang Ostomate, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berkomitmen mewujudkan Kota Ramah Ostomate yang inklusif.
“Dan Kota Bogor mendukung setiap penyandang ostomi agar diterima, dihargai, serta berdaya untuk hidup bermartabat, produktif, dan aktif di masyarakat,” ujarnya.
Komitmen ini perlu diwujudkan melalui edukasi untuk menghapus stigma, pelayanan yang memahami kebutuhan pasien, serta fasilitas publik yang semakin ramah.
“Tidak boleh ada warga yang tersisih karena kondisi kesehatannya,” tegas Dedie Rachim.
Perhatian serupa juga diberikan kepada pasien diabetes. Diabetes yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi, termasuk luka kaki diabetik hingga amputasi.
“Pemerintah Kota Bogor terus memperkuat promosi kesehatan, pencegahan, dan deteksi dini melalui puskesmas dan posyandu. Capaian Cek Kesehatan Gratis pada 2025 menjadi yang tertinggi di Jawa Barat. Tahun ini, CKG SMART mendekatkan skrining kepada masyarakat, disertai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam perawatan luka,” ujarnya.
Di samping itu, pasien juga membutuhkan dukungan keluarga, penerimaan sosial, dan informasi tepercaya. Kolaborasi pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas pasien menjadi kunci dalam mewujudkan pelayanan yang berkesinambungan.
“Bogor memiliki tradisi menjadi tuan rumah pertemuan internasional, termasuk APEC 1994 yang melahirkan Deklarasi Bogor. Semoga forum ini mempererat persahabatan serta memperkuat pertukaran pengetahuan dan kerja sama lintas negara. Di balik setiap diagnosis, ada seorang manusia, keluarga, dan kisah yang patut kita pedulikan dan hormati,” tutupnya. kmf













