Menu ✖

Dark Mode
Meta Dihajar Denda Rp 450 Triliun Terkait Skandal Cambridge Analytica PBB Khawatir Penggunaan AI di Bidang Militer Perburuk Kondisi Perang Pemerintah Ingin Pusat Data Menyebar ke Indonesia Timur, Perpres Disiapkan Apa Dampak Celah PHP2Shell ke Indonesia? Ini Kata Pakar Karhutla dan Ancaman Kabut Asap Lintas Negara, Sejauh Mana Penanganannya? Peringati Hari Santri 2026, Pemkot Bogor Apresiasi Santri dan Pelajar Berprestasi

Kabar Lifestyle

PBB Khawatir Penggunaan AI di Bidang Militer Perburuk Kondisi Perang

badge-check


					Ilustrasi. PBB memperingatkan risiko penggunaan AI militer yang dapat 
menghilangkan peran manusia dalam keputusan. (Foto: istockphoto/Dragos 
Condrea)
Perbesar

Ilustrasi. PBB memperingatkan risiko penggunaan AI militer yang dapat menghilangkan peran manusia dalam keputusan. (Foto: istockphoto/Dragos Condrea)

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di bidang militer berisiko menghilangkan peran manusia dalam penilaian dan pengambilan keputusan serta memperburuk kondisi perang.

United Nations Institute for Disarmament Research (UNIDIR) menyatakan AI di bidang militer mulai banyak digunakan untuk tugas-tugas teknis tertentu seperti analisis intelijen, identifikasi target, pengoperasian drone, hingga perancangan serangan siber.

Teknologi ini secara signifikan mampu meningkatkan kecepatan operasi penyerangan. Namun, di sisi lain AI juga berpotensi meningkatkan risiko kesalahan serta eskalasi yang tidak disengaja.

“Apakah kita akan membiarkan mesin menargetkan dan membunuh manusia?” kata Direktur UNIDIR Robin Geiss di Markas Besar PBB pada Selasa (20/10), dikutip dari laman berita PBB.

Menurutnya, AI berpotensi mengakibatkan berbagai kerugian akibat hilangnya peran manusia untuk menilai serangan dan respons secara bijak, termasuk pada konteks senjata nuklir.

Robin mengatakan Sekretaris Jenderal PBB telah berulang kali menyerukan regulasi yang lebih ketat terhadap AI militer serta mengatur sistem senjata otonom yang mematikan ini agar penggunaannya tidak melampaui garis moral manusia.

Dalam rangka mengatasi risiko tersebut, Centre of Excellence on AI, Peace and Security sebagai bagian dari UNIDIR telah membentuk forum yang berisi pemangku kepentingan untuk membahas mengenai AI dalam perdamaian dan keamanan internasional serta di bidang militer saat ini.

Forum tersebut akan berfokus pada pembahasan mengenai pengembangan kerangka kerja bagi para pelaku industri agar dapat diikuti perusahaan sebagai pedoman dalam mendesain dan mengembangkan alat militer berbasis AI dengan lebih bertanggung jawab.

Mereka juga akan mengembangkan leksikon atau kamus istilah keamanan AI untuk mengklarifikasi konsep-konsep seperti otonomi, keselamatan, atau keamanan. Hal ini dinilai penting untuk menghindari ambiguitas dalam komunikasi antarpihak.

Selain itu, forum tersebut nantinya juga akan mengatasi risiko penyalahgunaan AI oleh kelompok bersenjata non-negara untuk mendukung perencanaan operasional, pelaksanaan, dan logistik.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Meta Dihajar Denda Rp 450 Triliun Terkait Skandal Cambridge Analytica

22 October 2026 - 21:57 WIB

Pemerintah Ingin Pusat Data Menyebar ke Indonesia Timur, Perpres Disiapkan

22 October 2026 - 21:47 WIB

Apa Dampak Celah PHP2Shell ke Indonesia? Ini Kata Pakar

22 October 2026 - 21:43 WIB

Karhutla dan Ancaman Kabut Asap Lintas Negara, Sejauh Mana Penanganannya?

22 October 2026 - 21:39 WIB

Menkomdigi Bantah Pembatasan Konten Karhutla, Singgung Algoritma Medsos

21 October 2026 - 22:23 WIB

Trending on Kabar Lifestyle