Menu ✖

Dark Mode
Pasar Gembrong Sukasari Diganjar Sertifikat SNI Pasar Rakyat Menampakkan Diri Setelah 150 Tahun, Ular Langka Kejutkan Petugas Hutan Ramai Tren Mukbang Mentega di TikTok, Ini Kata Pakar Viral Celana Dalam Merah Putih, Netizen RI Murka ke Warga Malaysia Tak Setuju AI Direm, Komdigi Dorong Safety by Design Bukan HP, Ini Sumber Duit Samsung Sampai Untung Ribuan Triliun

Kabar Lifestyle

Ramai Tren Mukbang Mentega di TikTok, Ini Kata Pakar

badge-check


					Ramai Tren Mukbang Mentega di TikTok, Ini Kata Pakar (Foto: TikTok 
@steakandbuttergal)
Perbesar

Ramai Tren Mukbang Mentega di TikTok, Ini Kata Pakar (Foto: TikTok @steakandbuttergal)

Tren mengonsumsi mentega (butter) dan margarin secara langsung dalam jumlah besar ramai di media sosial seperti TikTok. Ahli kesehatan mengimbau agar masyarakat tidak asal ikut-ikutan tren tanpa memahami risikonya.

Tren ini awalnya berkembang seiring dengan populernya carnivore diet (diet karnivora), yakni mengonsumsi produk hewani murni untuk menekan karbohidrat hingga 0%. Di Indonesia sendiri, aksi mukbang atau makan mentega/margarin langsung juga kerap dilakukan oleh sejumlah influencer lokal.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Prof Sri Anna Marliyati, mentega dan margarin merupakan sumber lemak yang padat energi, sehingga keduanya bukan termasuk pangan yang perlu dikonsumsi secara langsung dalam jumlah banyak.

“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” jelasnya seperti dikutip dari situs IPB University.

Meski demikian, ia menjelaskan, margarin tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai pangan yang buruk. Hal yang perlu diperhatikan adalah komposisi asam lemak, jumlah konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan.

Margarin lunak, terutama yang dibuat dari minyak nabati, umumnya memiliki proporsi lemak tak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan mentega yang mengandung lebih banyak lemak jenuh. Namun, kandungan asam lemak trans tetap perlu menjadi perhatian dalam memilih produk.

Karena itu, Prof Anna menyarankan margarin digunakan secukupnya, misalnya sebagai olesan roti atau untuk menumis. Penggunaan margarin dalam jumlah berlebihan pada makanan seperti martabak manis juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan asupan lemak dan energi.

Selain itu, konsumsi mentega dalam jumlah besar sekaligus dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Kandungan lemak yang tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga seseorang merasa sangat kenyang, begah, mual, atau mengalami gangguan pencernaan tertentu.

“Makanan yang sangat berlemak juga merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, konsumsi makanan berlemak dapat memicu nyeri atau ketidaknyamanan pada perut,” tambahnya.

Selain efek jangka pendek, konsumsi makanan berlemak juga dapat meningkatkan sementara kadar lemak darah (trigliserida) saat setelah makan-kondisi yang dikenal sebagai postprandial lipemia.

“Jika pola konsumsi tersebut berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta metabolik,” tambahnya.

Prof Anna menjelaskan, pembatasan konsumsi mentega terutama perlu diperhatikan oleh individu dengan kondisi tertentu, yaitu gangguan kadar lemak darah (dislipidemia), penyakit jantung koroner atau risiko penyakit kardiovaskular tinggi, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, obesitas, perlemakan hati (fatty liver), serta riwayat batu empedu.

Meski ada risiko tersebut, margarin dan mentega tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Kuncinya, tetap kembali pada prinsip gizi seimbang, yakni memenuhi kebutuhan energi, mengonsumsi protein berkualitas, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak.

“Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar,” ujar Prof Sri Anna.

Secara umum, asupan lemak dianjurkan sekitar 20-30% dari total energi harian, dengan mengutamakan sumber lemak tidak jenuh-bukan dengan mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar seperti tren yang beredar di media sosial.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Menampakkan Diri Setelah 150 Tahun, Ular Langka Kejutkan Petugas Hutan

8 October 2026 - 19:46 WIB

Viral Celana Dalam Merah Putih, Netizen RI Murka ke Warga Malaysia

8 October 2026 - 19:41 WIB

Tak Setuju AI Direm, Komdigi Dorong Safety by Design

8 October 2026 - 19:36 WIB

Bukan HP, Ini Sumber Duit Samsung Sampai Untung Ribuan Triliun

8 October 2026 - 19:31 WIB

Bukan Cuma di RI, Pembangunan Data Center di Finlandia Disetop

8 October 2026 - 19:27 WIB

Trending on Kabar Lifestyle