Menu ✖

Dark Mode
Hacker Bobol Data 8,8 Juta Orang di Sistem Pemerintah Denmark Mengenal Pes Paru yang Diduga Picu Kematian Misterius Peneliti Rusia Bocah Ajaib Rp57 Triliun Mendadak Bawel di Medsos, 350 Tweet Indonesia Bisa Jadi Incaran Seluruh Dunia, Ini Peringatan Interpol Orang Terkaya Lakukan Ini Supaya Presiden Senang Formapel Cup 2026 Digelar, Munjirin Tekankan Sportivitas dan Pembinaan Bola Voli

Kabar Lifestyle

Mengenal Pes Paru yang Diduga Picu Kematian Misterius Peneliti Rusia

badge-check


					Ilustrasi. Seorang peneliti di Institut Penelitian Anti Wabah di Shelekhov, Rusia 
diduga meninggal dunia akibat pes paru. (Foto: Istockphoto/DragonImages)
Perbesar

Ilustrasi. Seorang peneliti di Institut Penelitian Anti Wabah di Shelekhov, Rusia diduga meninggal dunia akibat pes paru. (Foto: Istockphoto/DragonImages)

Pes paru diduga menjadi penyebab kematian seorang peneliti di laboratorium di Siberia, Rusia, yang didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab misterius.

Meski dugaan tersebut telah mencuat, otoritas Rusia belum mengonfirmasi jenis infeksi yang menewaskan perempuan berusia 28 tahun tersebut.

Mengutip CNN, pihak berwenang tengah menangani dugaan terlepasnya agen infeksi berbahaya akibat kecelakaan laboratorium. Kantor berita pemerintah Rusia, TASS, menyebut insiden terjadi di Institut Penelitian Anti-Pes di Shelekhov, dekat Irkutsk.

Badan pengawas penyakit menular Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan pekerja tersebut didiagnosis mengalami “pneumonia dengan etiologi tidak diketahui”, atau pneumonia yang penyebabnya belum teridentifikasi.

Dugaan pes muncul dalam pernyataan pemimpin Republik Buryatia, Alexei Tsydenov. Ia menyebut pekerja tersebut meninggal “kemungkinan akibat pes”, sekaligus menegaskan tidak ada wabah pes di Buryatia.

Pes paru atau pneumonic plague merupakan salah satu dari tiga bentuk penyakit pes yang disebabkan bakteri Yersinia pestis.

Dua bentuk pes lainnya biasanya menyebar melalui kontak dengan kutu, hewan, atau jaringan yang terinfeksi. Sementara itu, pes paru menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pasien pes paru dapat mengalami demam, sakit kepala, dan tubuh lemah.

Penyakit ini juga dapat menyebabkan pneumonia yang berkembang cepat, disertai sesak napas, nyeri dada, batuk, serta terkadang dahak berdarah atau encer.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pes memiliki tingkat kematian tinggi. Meski demikian, penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik, disertai langkah pencegahan penularan.

Dalam kasus di Rusia, informasi mengenai penyebab penyakit masih belum pasti. Mantan kepala Rospotrebnadzor, Gennady Onishchenko, bahkan mengatakan bahwa infeksi di wilayah Irkutsk “kemungkinan besar bukan pes”.

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, meminta masyarakat tetap tenang. Ia menyatakan telah digelar pertemuan luar biasa komisi antiepidemi regional bersama pejabat tertinggi kesehatan negara Rusia.

Menurut Kobzev, pertemuan itu berkaitan dengan dugaan infeksi yang sangat berbahaya pada seorang penduduk wilayah tersebut.

Rospotrebnadzor menyatakan langkah-langkah khusus telah dilakukan terkait kasus pekerja Institut Anti-Pes Irkutsk.

“Situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, kota Irkutsk dan Shelekhov stabil,” kata Rospotrebnadzor.

Lebih lanjut, sebuah pabrik aluminium di dekat laboratorium turut menginstruksikan pegawainya memakai masker sebagai tindakan pencegahan. Direktur Pabrik Aluminium Irkutsk, Artem Fominikh, meminta masyarakat tenang karena banyak rumor dan laporan yang saling bertentangan.

“Semua kontak dekat yang teridentifikasi berada dalam pengawasan medis. Saat ini, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit, dan hasil tes laboratorium mereka negatif,” ujar Fominikh.

Sementara itu, laporan tidak resmi, termasuk dari media regional independen Liudi Baikala, menyebut hampir 200 orang ditempatkan dalam pengawasan di rumah sakit Shelekhov tempat pekerja laboratorium tersebut dibawa.

Media itu juga melaporkan penerapan karantina di setidaknya satu rumah sakit bersalin di kota tersebut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada Minggu (4/10) bahwa pihaknya mengetahui kemungkinan kematian akibat pes paru di Rusia.

“Kami memantau situasi dengan saksama bersama CDC dan mitra antarlembaga kami lainnya,” kata juru bicara tersebut.

“Banyak detail belum dikonfirmasi. Kami mendorong otoritas Rusia untuk membagikan informasi akurat secara cepat dan terbuka,” imbuhnya.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hacker Bobol Data 8,8 Juta Orang di Sistem Pemerintah Denmark

6 October 2026 - 18:16 WIB

Bocah Ajaib Rp57 Triliun Mendadak Bawel di Medsos, 350 Tweet

6 October 2026 - 18:09 WIB

Indonesia Bisa Jadi Incaran Seluruh Dunia, Ini Peringatan Interpol

6 October 2026 - 18:06 WIB

Orang Terkaya Lakukan Ini Supaya Presiden Senang

6 October 2026 - 18:03 WIB

Eks Karyawan Ungkap Kebohongan Besar Facebook, Bilang Jangan Percaya

6 October 2026 - 17:18 WIB

Trending on Kabar Lifestyle