Menu

Dark Mode
Sukses Periode Pertama, Laniasari Pimpin Kembali Porpi Kota Bogor Viral UFO di Natuna, Mirip Objek Misterius di Rekaman Pentagon Takut Bicara, Mahasiswa RI Ini Malah Menang Penghargaan Apple Gen Z Mau Hidup Damai? Kota Ini Bisa Jadi Pilihan Yayasan Bill Gates Bantu Lepas 30 Juta Nyamuk Setiap Minggunya, Buat Apa? Trump Akui AS Mata-matai China Habis-habisan Usai Bertemu Xi Jinping

Kabar Lifestyle

Takut Bicara, Mahasiswa RI Ini Malah Menang Penghargaan Apple

badge-check


					Takut Bicara, Mahasiswa RI Ini Malah Menang Penghargaan Apple. (Foto: Apple) Perbesar

Takut Bicara, Mahasiswa RI Ini Malah Menang Penghargaan Apple. (Foto: Apple)

Rasa takut berbicara di depan umum atau social anxiety sering dianggap sepele. Namun bagi Francesco Emmanuel Setiawan, pengalaman itu justru menjadi titik awal lahirnya sebuah game edukatif yang membawanya meraih penghargaan bergengsi dari Apple.

Mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komputer di Binus University tersebut berhasil menjadi Swift Student Challenge Distinguished Winner lewat proyek berjudul “Against the Silence”, sebuah game iPad yang dirancang untuk membantu pengguna melatih kemampuan public speaking dengan cara menyenangkan.

Atas prestasinya ini, Francesco diundang Apple untuk menghadiri ajang Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 awal Juni mendatang.

Lahir dari Pengalaman Pribadi
Against the Silence, nama proyek yang dibuat Francesco, lahir dari pergulatan pribadinya selama bertahun-tahun dengan kecemasan sosial. Sejak kecil, dia sering memilih diam daripada berbicara, bukan karena tidak punya ide, melainkan karena takut dihakimi.

“Saya punya banyak ide, tetapi takut untuk mengungkapkannya. Saya takut dihakimi dan takut salah. Karena itu, sebagian besar waktu saya memilih diam,” ungkap Francesco.

Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa diam juga memiliki konsekuensi besar dalam kehidupan sosial maupun karier.

“Kesempatan biasanya diberikan kepada mereka yang berani berbicara,” katanya.

Berangkat dari pengalaman pribadi itu, Francesco mulai mencari cara untuk melatih kemampuan berbicara spontan. Ia kemudian mengikuti kursus public speaking dan menemukan metode impromptu speaking, yakni latihan berbicara tanpa persiapan mengenai topik acak.

Menurutnya, kemampuan berbicara bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang harus terus dilatih.

“Kemampuan berbicara sebenarnya seperti otot. Itu bukan bakat bawaan, melainkan sesuatu yang harus dilatih secara rutin,” jelasnya.

Dari situlah lahir ide “Against the Silence” yang saat ini tersedia untuk iPad.

Lawan “Demon” dengan Suaramu
Sebelum membangun aplikasinya, Francesco melakukan riset kecil. Dia mewawancarai 22 profesional muda di sekitarnya.

Hasilnya mengejutkan. Sebanyak 75% dari mereka mengaku punya masalah serupa saat harus berbicara spontan di kelas atau di kantor.

Karenanya, Against the Silence coba mengubah latihan public speaking menjadi pengalaman bermain yang menyenangkan. Pemain dihadapkan pada seekor “demon”.

Konsep demon dipilih bukan tanpa alasan. Francesco mengatakan monster tersebut merepresentasikan rasa takut dihakimi yang sering muncul saat berbicara di depan umum.

“Demon dalam game ini mensimulasikan kecemasan saat presentasi di depan audiens. Secara metaforis, itu juga melambangkan perjuangan menghadapi ‘demon’ dalam diri sendiri-rasa takut dihakimi dan kurang percaya diri untuk berbicara,” jelasnya

Di Against the Silence, pemain ditantang membela pendapat yang tidak populer, misalnya mengapa nanas layak ada di atas pizza, dengan syarat menggunakan kata-kata tertentu sekaligus menghindari kata-kata lainnya.

Setiap filler word seperti “umm” atau “hmm” akan mengurangi skor, menjadikan setiap ronde sebagai ukuran nyata kemajuan.

Terinspirasi Think Different
Francesco mulai belajar coding sejak usia 15 tahun melalui Swift Playgrounds. Ketertarikannya pada teknologi juga terinspirasi dari filosofi “Think Different” milik Apple.

Perjalanannya kemudian berlanjut hingga bergabung dengan Apple Developer Academy Tangerang pada 2025. Di sana, ia mengaku belajar bukan hanya tentang membuat aplikasi, tetapi juga menciptakan produk yang benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna.

Kini, pencapaiannya di Swift Student Challenge menjadi validasi besar atas perjuangannya mengatasi rasa takut berbicara.

“Dinobatkan sebagai Pemenang Terhormat Swift Student Challenge lebih dari sekadar penghargaan bagi saya. Ini adalah bukti bahwa perjuangan pribadi kita dapat diubah menjadi alat yang membantu orang lain,” kata Francesco.

“Diakui oleh Apple untuk aplikasi yang membantu orang mengatasi rasa takut yang sama persis adalah suatu kehormatan luar biasa dan validasi tertinggi atas perjalanan saya,” lanjutnya.

Ke depan, Francesco berencana terus menyempurnakan “Against the Silence” sebelum akhirnya dirilis secara resmi di App Store.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Viral UFO di Natuna, Mirip Objek Misterius di Rekaman Pentagon

16 May 2026 - 14:39 WIB

Gen Z Mau Hidup Damai? Kota Ini Bisa Jadi Pilihan

16 May 2026 - 14:28 WIB

Yayasan Bill Gates Bantu Lepas 30 Juta Nyamuk Setiap Minggunya, Buat Apa?

16 May 2026 - 14:21 WIB

Trump Akui AS Mata-matai China Habis-habisan Usai Bertemu Xi Jinping

16 May 2026 - 14:17 WIB

Xi Jinping Janjikan ‘Karpet Merah’ Bagi Raksasa Teknologi AS

15 May 2026 - 12:41 WIB

Trending on Kabar Lifestyle