Menu

Dark Mode
Ilmuwan Ungkap Fenomena Ajaib Hutan Pulih Sendiri, Indonesia Jadi Sorotan UMKM Masuk Fase Baru Digitalisasi, Pembayaran Jadi Pintu Masuk Apple Pilih Gemini Ketimbang OpenAI, Ini Alasannya Pramuka Kobra XI 2026 Resmi Dibuka Bahaya Besar Intai Warga Iran yang Pakai Internet Starlink Internet angkasa Starlink lumpuh di atas langit Iran, mengapa?

Kabar Lifestyle

Ilmuwan Ungkap Fenomena Ajaib Hutan Pulih Sendiri, Indonesia Jadi Sorotan

badge-check


					 Foto: Live Science Perbesar

Foto: Live Science

Jakarta – Citra satelit mengungkap fenomena menarik di hutan-hutan dunia. Di tengah laju deforestasi dan krisis iklim, alam ternyata menyimpan semacam mode pemulihan otomatis yang sangat kuat.

Studi terbaru yang terbit di jurnal Nature menunjukkan sekitar 530 juta hektar lahan tropis bekas hutan berpotensi tumbuh kembali secara alami tanpa perlu ditanami ulang, asalkan dibiarkan dan dilindungi dari gangguan manusia.

Jika regenerasi alami ini terjadi, hutan-hutan tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 23,4 gigaton karbon dalam 30 tahun. Dampaknya bukan hanya menekan perubahan iklim, tetapi juga memulihkan keanekaragaman hayati, memperbaiki kualitas air, dan menstabilkan iklim lokal.

Lebih Terjangkau dan Berkelanjutan

Para peneliti menilai regenerasi alami jauh lebih efisien dibandingkan reboisasi konvensional. Biayanya bisa serendah USD 5 atau sekitar Rp 84 ribu per acre, sementara penanaman pohon aktif dapat menembus USD 10.000 atau sekitar Rp 168 juta per acre. Selain lebih murah, hutan yang tumbuh secara alami juga cenderung lebih beragam dan stabil dalam jangka panjang.

“Penanaman pohon di lanskap yang terdegradasi dapat memakan biaya besar. Dengan memanfaatkan regenerasi alami, negara-negara dapat mencapai tujuan restorasi mereka secara efektif dari segi biaya,” kata Brooke Williams dari Queensland University of Technology dan Institute for Capacity Exchange in Environmental Decisions, dikutip dari Earth.com.

Meski demikian, regenerasi alami bukan berarti manusia sama sekali tidak perlu bertindak. Langkah sederhana seperti mencegah kebakaran, mengendalikan spesies invasif, atau memasang pagar agar lahan tidak dirusak ternak terbukti dapat mempercepat pemulihan hutan.

Indonesia Masuk Daftar Kunci

Dalam studi ini, para peneliti mengidentifikasi lima negara yang menyimpan lebih dari setengah potensi regenerasi alami dunia, yaitu Brasil, Indonesia, China, Meksiko, dan Kolombia. Faktor penentunya antara lain kandungan karbon tanah yang tinggi serta kedekatan dengan hutan yang masih utuh sehingga memudahkan penyebaran benih alami.

Data satelit periode 2000 hingga 2015 menunjukkan pertumbuhan kembali paling kuat terjadi dalam radius 300 meter dari hutan yang sudah ada. Tanah dengan kandungan karbon organik tinggi juga menjadi modal utama agar hutan bisa bangkit lebih cepat.

Untuk memetakan potensi tersebut, para peneliti memanfaatkan citra satelit resolusi tinggi dan kecerdasan buatan guna membedakan hutan yang tumbuh alami dengan hutan hasil penanaman manusia. Hasilnya berupa peta digital detail hingga resolusi 30 meter yang menunjukkan peluang regenerasi di setiap titik lahan.

Peta ini diharapkan dapat menjadi alat penting bagi pemerintah daerah, komunitas, dan pembuat kebijakan dalam menentukan area prioritas restorasi, sekaligus mengaitkannya dengan ekonomi lokal dan skema kredit karbon.

Tantangan Regenerasi Alami

Meski potensinya besar, hutan muda hasil regenerasi alami tetap rentan hilang akibat ekspansi pertanian, pembangunan, atau kebakaran. Para peneliti menekankan pentingnya perlindungan jangka panjang, termasuk insentif finansial bagi masyarakat lokal. Sayangnya, banyak skema karbon saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi hutan yang tumbuh secara alami.

Menurut Matthew Fagan, ahli sistem lingkungan dari University of Maryland, tata kelola lokal yang kuat, kesadaran publik, dan reformasi kebijakan menjadi kunci keberhasilan.

“Tanpa perlindungan jangka panjang, janji regenerasi alami dapat memudar secepat kemunculannya,” ujarnya.

Jika sebagian saja dari potensi ini terwujud, regenerasi alami diperkirakan mampu mengurangi hampir 27 persen emisi karbon global dari lahan terdeforestasi. Dampaknya tidak hanya pada iklim, tetapi juga pada ketersediaan air bersih, stabilitas tanah, dan kembalinya habitat satwa.

Para peneliti menyimpulkan bahwa di tengah gencarnya kampanye tanam pohon, solusi paling ampuh justru bisa datang dari alam itu sendiri, asalkan manusia memberi ruang dan perlindungan yang cukup.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

UMKM Masuk Fase Baru Digitalisasi, Pembayaran Jadi Pintu Masuk

17 January 2026 - 17:02 WIB

Apple Pilih Gemini Ketimbang OpenAI, Ini Alasannya

17 January 2026 - 16:58 WIB

Bahaya Besar Intai Warga Iran yang Pakai Internet Starlink

16 January 2026 - 17:13 WIB

Internet angkasa Starlink lumpuh di atas langit Iran, mengapa?

16 January 2026 - 17:07 WIB

Telkomsel Bongkar Waktu Terbaik Iklan Ramadan, Sahur Jadi Puncak

16 January 2026 - 16:30 WIB

Trending on Kabar Lifestyle