Menu

Dark Mode
CAS Bagikan Ratusan Paket Makan Gratis Abu Vulkanik Menyebar, Kalbe Consumer Health dan PWI Kota Bogor Bagikan Masker  Galuga Kebakaran, Pemkot Bogor Gercep Padamkan Kopi Darat Bersama KGMP, BPJS Ketenagakerjaan Kebayoran Baru Perkuat Sinergi dan Perlindungan bagi Mitra Gojek Sinergi BPJS Ketenagakerjaan dan DMI Kebayoran Baru, Dorong Perlindungan Jaminan Sosial bagi Seluruh Perangkat Masjid Gara-gara Debu Krakatau, Pelajar di Bogor Belajar Daring

Kabar Lifestyle

Ancaman Spyware Predator, Incar Pengguna Lewat Jaringan Iklan

badge-check


					Marek Bialoglowy, CTO ITSEC Asia. Foto: Dok. ITSEC Asia Perbesar

Marek Bialoglowy, CTO ITSEC Asia. Foto: Dok. ITSEC Asia

Laporan terbaru dari peneliti keamanan dan media internasional kembali mengungkap meningkatnya penggunaan mercenary spyware seperti Predator, termasuk sistem infeksi berbasis iklan bernama Aladdin, yang menyasar jurnalis, aktivis, pengacara, oposisi politik, hingga kelompok sensitif di berbagai negara.

Temuan ini, salah satunya berasal dari pengungkapan Intellexa Leaks, menunjukkan bagaimana kapabilitas siber kelas negara kini telah berubah menjadi komoditas yang bisa dibeli dan dimanfaatkan oleh beragam aktor.

Berbeda dari serangan siber konvensional, kampanye mercenary spyware ini memanfaatkan rantai eksploitasi zero-day pada perangkat mobile, penyalahgunaan ekosistem iklan digital, serta manipulasi infrastruktur jaringan. Kemunculan Aladdin menjadi sorotan karena mampu menginfeksi perangkat korban lewat jaringan periklanan berbahaya, memperluas permukaan serangan tanpa perlu interaksi langsung dari target.

Menanggapi aksi spyware ini, PT ITSEC Asia menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan siber nasional, termasuk peran platform pertahanan tingkat lanjut seperti IntelliBroń dalam membantu organisasi di Indonesia untuk mendeteksi, merespons, dan memitigasi ancaman mercenary spyware secara berkelanjutan.

Ada beberapa pola serangan yang harus diperhatikan belakangan ini:

  • Pertama, cakupan penargetan telah meluas. Kelompok berisiko kini tidak lagi terbatas pada lingkar pemerintahan, tetapi juga jurnalis investigasi, pembela HAM, advokat kebijakan publik, dan profesional hukum. Ancaman ini tidak lagi sekadar isu intelijen sempit, tetapi berimplikasi pada institusi demokrasi dan kepercayaan publik.
  • Kedua, permukaan serangan semakin beragam. Kampanye kini menggabungkan eksploitasi zero-day pada browser dan sistem mobile, menginjeksi threats pada operator telekomunikasi dan ISP, serta penyalahgunaan iklan digital, melebihi pola phishing tradisional.
  • Ketiga, kekhawatiran terkait tata kelola dan akuntabilitas semakin meningkat. Dalam beberapa investigasi, vendor spyware komersial diduga mempertahankan akses jarak jauh atau visibilitas terhadap sistem pelanggan, menimbulkan pertanyaan serius terkait kedaulatan data dan risiko lintas batas.

“Ancaman yang kita hadapi direncanakan, terus-menerus, dan tertanam di seluruh rantai nilai digital. Sebagai salah satu negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan APAC, Indonesia tidak dapat hanya bereaksi ketika insiden sudah terjadi. Kita membutuhkan kapabilitas pertahanan yang mampu mengantisipasi dan mengelola risiko ini secara berkelanjutan,” kata Marek Bialoglowy, CTO ITSEC Asia, dalam keterangan yang diterima detikINET.

ITSEC Asia mengembangkan IntelliBroń, sebuah platform keamanan siber yang dirancang untuk membantu organisasi membangun pertahanan berkelanjutan terhadap ancaman tingkat lanjut, termasuk mercenary spyware.

Beberapa fiturnya antara lain adalah

  • IntelliBroń mengintegrasikan network monitoring, threat intelligence, dan security analytics dalam satu pendekatan terpadu, yang memungkinkan organisasi untuk:
  • Memperoleh visibilitas mendalam terhadap infrastruktur dan pola serangan, mulai dari malicious domains hingga koneksi anomali yang dapat mengindikasikan aktivitas spyware.
  • Mendeteksi anomali cross-network melalui hubungan antara event endpoint, network telemetry, dan threat intelligence eksternal.
  • Mempercepat deteksi dan respons untuk memitigasi dampak operasional, reputasional, dan legal.

Menurut Marek, pengungkapan mercenary spyware seharusnya dipandang sebagai alarm dini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar perlindungan data, komunikasi, dan privasi benar-benar menjadi fondasi keamanan digital nasional, bukan sekadar formalitas teknis.

Sumber:detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Netizen Soroti Jalanan Jakarta Sepi Hari Ini

27 August 2026 - 13:23 WIB

Banjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek ChinaBanjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek China

27 August 2026 - 13:19 WIB

Demo 27 Agustus Ramai di Jagat Maya, Netizen Soroti Beragam Hal

27 August 2026 - 13:15 WIB

Mengenal Fitur Telepon AI Hasil Kerja Sama Indosat dan Huawei

27 August 2026 - 13:11 WIB

Demo 27 Agustus, Komdigi Ingatkan Warga Tidak Sebar Kebencian di Medsos

27 August 2026 - 13:07 WIB

Trending on Kabar Lifestyle