Menu

Dark Mode
Peduli Lingkungan, PMC dan Kecamatan Bojonggede Tanam Pohon Anggota DPR AS Desak Bill Gates Bersaksi di Bawah Sumpah soal Epstein Elon Musk Tuding Perdana Menteri Spanyol Tiran, Kenapa? Galaxy S25 Ultra Akan Abadikan Pembukaan Olimpiade Musim Dingin Pinjam Pakai Eks Kantor Imigrasi, Pemkot Bogor Teken Perjanjian Layanan Publik Makin Mudah, Imigrasi dan Dukcapil Buka Layanan di PWI Kota Bogor

Kabar Lifestyle

BRIN Kembangkan Teknologi Sub-THz dan Cloud Cerdas untuk 6G

badge-check


					BRIN Kembangkan Teknologi Sub-THz dan Cloud Cerdas untuk 6G (Foto: Beedini) Perbesar

BRIN Kembangkan Teknologi Sub-THz dan Cloud Cerdas untuk 6G (Foto: Beedini)

Indonesia terus mempersiapkan diri memasuki era teknologi 6G. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengembangkan dua teknologi kunci: perangkat sub-terahertz (sub-THz) berbasis optikal dan arsitektur jaringan cloud cerdas. Keduanya digadang menjadi fondasi utama sistem komunikasi ultra-cepat generasi mendatang.
Peneliti Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Ken Paramayudha, menjelaskan bahwa spektrum sub-terahertz merupakan kandidat kuat untuk menghadirkan komunikasi berkecepatan sangat tinggi di era 6G. Pada webinar PRT #6 bertema “Teknologi Kunci untuk Beyond 5G: Inovasi Spektrum Sub-THz dan Arsitektur Jaringan Terdistribusi”, Kamis (27/11) lalu, ia memaparkan bahwa kebutuhan data pada 6G diprediksi bisa mencapai 100 kali lebih cepat dibanding 5G.

“Teknologi telekomunikasi akan semakin maju dan beralih menuju 6G. Di mana, kebutuhan akan kecepatan data dapat mencapai hingga seratus kali lebih cepat dibanding 5G,” ujar Ken.

Inovasi Sub-THz: Produksi Sinyal 100 GHz
Ken menuturkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah membangun perangkat yang mampu menghasilkan sinyal sub-terahertz secara stabil dan efisien. Tim peneliti BRIN menggunakan pendekatan difference frequency generation (DFG) dengan memanfaatkan material optik non-linear yang diintegrasikan ke dalam rectangular waveguide.

Pendekatan tersebut memungkinkan perangkat menghasilkan continuous wave signal pada temperatur ruangan, sehingga lebih praktis untuk implementasi industri. Dalam riset awal, perangkat berhasil memproduksi sinyal hingga 100 GHz, capaian penting untuk membangun komunikasi ultra-kecepatan di masa depan.

Ken juga menunjukkan bahwa integrasi teknologi fotonik dan microwave melalui desain resonansi dan simulasi CST meningkatkan efisiensi penguatan sinyal. Teknologi ini membuka peluang untuk aplikasi:

  • High-speed optical-electrical conversion
  • Transmitter radio berbasis serat optic
  • Komunikasi berkecepatan tinggi di lingkungan padat trafik

“Perangkat ini dapat diterapkan untuk aplikasi high-speed optical-electrical conversion dan transmitter radio berbasis serat optik,” jelas Ken.

Cloud Cerdas 6G
Pada sesi lain, Arief Indra Irawan, PhD student di Okayama University, mengulas tantangan komunikasi cloud intelijen yang menjadi salah satu pilar jaringan 6G. Ia memfokuskan paparannya pada privacy processing dalam service function chaining (SFC) di area multi-domain virtual networking.

Arief menekankan bahwa virtualisasi jaringan kini menjadi fondasi penting telekomunikasi modern. Dengan jaringan virtual, layanan dapat diatur lebih fleksibel sesuai kebutuhan aplikasi dan kondisi trafik.

Salah satu teknologi penting yang didorong adalah deep reinforcement learning (DRL), algoritma kecerdasan buatan yang dapat melakukan pengambilan keputusan adaptif.

“6G menuntut konektivitas full-dimensional multi-access yang mencakup integrasi darat, udara, dan satelit. Keputusan jaringan harus bersifat cerdas karena DRL mampu melakukan optimasi jangka panjang berdasarkan lingkungan operasional,” jelas Arief.

DRL memungkinkan jaringan:

  • Menentukan penempatan fungsi layanan secara otomatis
  • Mengoptimalkan jalur komunikasi lintas domain
  • Menjaga efisiensi dan keamanan pemrosesan data
  • Beradaptasi terhadap kondisi jaringan real-time

Kombinasi riset perangkat sub-terahertz dan pengembangan arsitektur cloud cerdas menjadi langkah penting bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam ekosistem 6G global. BRIN menilai bahwa inovasi material, integrasi fotonik-microwave, virtualisasi, dan kecerdasan jaringan akan menjadi pilar utama telekomunikasi masa depan.

Dengan riset yang terus berjalan, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pengguna 6G ketika teknologi ini matang sekitar 2030-2035, tetapi juga turut berkontribusi dalam pengembangan teknologi intinya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Anggota DPR AS Desak Bill Gates Bersaksi di Bawah Sumpah soal Epstein

5 February 2026 - 11:14 WIB

Elon Musk Tuding Perdana Menteri Spanyol Tiran, Kenapa?

5 February 2026 - 11:10 WIB

Galaxy S25 Ultra Akan Abadikan Pembukaan Olimpiade Musim Dingin

5 February 2026 - 11:06 WIB

Mantan Bos Microsoft Minta Dikenalkan ke Tim Cook Lewat Jeffrey Epstein

4 February 2026 - 13:19 WIB

Kawin Campur Manusia dengan Spesies Lain, Anaknya Berumur Pendek

4 February 2026 - 13:16 WIB

Trending on Kabar Lifestyle