Menu

Dark Mode
Cara Praktis Bikin Kartu Lebaran AI-Style di Galaxy S26 Series 1 Syawal Tak Seragam, Netizen Sepakat Tak Debatkan Penetapan Idul Fitri Tiba-tiba Ngetweet, Cristiano Ronaldo: Eid Mubarak Semuanya! Pemkot Bogor Silaturahmi ke Alim Ulama di Pekan Terakhir Ramadan PLN UPT Cirebon dan YBM PLN Gelar Berbagi Berkah Ramadhan Tim PDKB PLN UPT Cirebon Tuntaskan Perbaikan Hot Spot di GI Kamojang

Headline

PWI Jaya Rumah Cerdas Bagi Wartawan Jakarta

badge-check


					Kepengurusan PWI Jaya. (Foto: pwijaya) Perbesar

Kepengurusan PWI Jaya. (Foto: pwijaya)

Jakarta-Ketua Dewan Penasihat PWI Jaya Benny N.Joewono menginginkan PWI Jaya menjadi rumah cerdas bagi anggotanya, khususnya wartawan ibu kota. Hal itu disampaikan Benny di hadapan anggota PWI Jaya, Selasa (14/10/2025).

“Makna menjadikan PWI Jaya sebagai rumah cerdas bagi anggotanya, wartawan Jakarta, bisa dijadikan deskripsi visi atau tagline,” kata Benny.

Benny Joeeono menjabarkan konsep rumah cerdas PWI Jaya sebagai berikut. Secara kontektual, rumah cerdas bermakna tempat belajar, berinovasi, dan berbagi pengetahuan.

“Identifikasi rumah cerdas bagi jurnalis menegaskan fungsi PWI Jaya sebagai pusat pengembangan kapasitas dan kolaborasi bagi para wartawan. Pengembangan konsep diskripsi bisa disesuaikan dengan program prioritas atau program terkini PWI Jaya,” ujar pendiri Digital News Network serta wartawan Kompas.com 2007-2014 dan Kompas Tv online tersebut.

Menurut Pemimpin Umum Ipotnews ini menganalogikan PWI Jaya menjadi rumah cerdas bagi anggotanya, tempat bersemai dan tumbuhnya wawasan, etika, dan inovasi media. Penekanan diskripsi lebih kepada aspek pendidikan dan nilai-nilai profesionalisme.

Kedua, sebagai rumah cerdas bagi wartawan atau anggotanya, PWI Jaya hadir untuk membina, menginspirasi, dan memperkuat peran pers di era digital. Penekanan deskripsi kepada aspek lebih dinamis dan cocok untuk konteks modernisasi.

Ketiga, PWI Jaya rumah cerdas tempat anggotanya belajar, berjejaring, dan bertransformasi. Deskripsi yang ketiga ini lebih ringkas, komunikatif, dan cocok untuk tagline publikasi.

“Tantangan terbesarnya adalah menjadikan organisasi PWI Jaya, sebagai sebuah wadah yang tidak hanya melindungi, tetapi juga mencerdaskan, menghubungkan, dan mengangkat martabat profesi wartawan di mata publik dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Benny Joewono dipercaya menggantikan Johnny Hardjojo sebagai ketua dewan penasihat PWI Jaya masa bakti 2024-2029. Johnny Hardjojo menjadi salah satu fungsionaris PWI Jaya yang mendapat kehormatan masuk kepengurusan PWI Pusat 2025-2030 pimpinan Akhmad Munir dan Zulmansyah Sekedang. Johnny Hardjojo mengemban amanah sebagai ketua departemen Hankam, TNI dan Polri.

“Sebagai ketua dewan penasihat PWI Jaya yang baru, saya akan meneruskan pemikiran mas Johnny, termasuk style kepemimpinannya yang familiar. Untuk itu saya mohon dukungan teman-teman anggota Wanhat PWI Jaya, baik para senior maupun anggota baru seperti mas Kusnaeni dan pak Mohammad Nasir, ” papar Benny.

Benny menambahkan, diakui atau tidak PWI Jaya menjadi barometer para wartawan. Harus diingat, PWI Jaya juga banyak melahirkan tokoh-tokoh wartawan, bahkan juga melahirkan tokoh wartawan yang menjadi wakil presiden dan menteri-menteri Republik Indonesia.

Antaralain Adam Malik, Wakil Presiden RI ke 3, tokoh pers dan politisi yang juga berperan penting dalam sejarah Indonesia, Harmoko Menteri Penerangan RI, pada pemilihan umum 1977,  Jakob Oetama pendiri Kelompok Usaha Kompas Gramedia, ia dikenal sebagai jurnalis yang menerapkan nilai kejujuran dan humanisme dalam kariernya, Rosihan Anwar, seorang jurnalis legendaris dan guru bagi banyak wartawan, ia dikenal karena konsisten bersikap kritis dan produktif menulis di berbagai media.

Selanjutnya SK Trimurti, tokoh pers dan aktivis kemerdekaan yang berperan penting dalam sejarah pers nasional, Herawati Diah  wartawan senior dan tokoh pers perempuan pertama yang menulis buku autobiografi berjudul Endless Journey, Tan Malaka selain sebagai tokoh pergerakan nasional, ia juga aktif sebagai jurnalis yang sering mengekspos kesenjangan sosial, Mochtar Lubis tokoh pers berpengaruh yang juga dikenal sebagai penulis.

“Para tokoh tersebut di atas berhasil memperkuat posisinya sebagai wartawan di tengah masyarakat. Keterlibatan para tokoh dengan masyarakat membuat PWI Jaya makin disegani. Dampaknya, PWI makin dikenal dan dihargai masyarakat,” tegas Benny Joewono.

Ketika para tokoh pers tersebut dikenal dan dihargai oleh masyarakat, lanjut Benny, mereka juga akan mudah mempengaruhi kebijakan dan pengambilan keputusan penting pemerintah. Dan, para tokoh pers ini dipercaya untuk membantu pemerintah sebagai pembantu Presiden.

“Saat ini banyak tokoh pers yang publik figur yang masuk di ranah politik dan menjadi menteri, namun menurut saya tidak terlalu dikenal dan dihargai masyarakat, utamanya di era disrupsi media digital & sosial. Tetapi ini sekadar pendapat pribadi saya. Kenapa? Karena karya nyata mereka tidak dikenal masyarakat, mereka tidak dekat dengan masyarakat,” tegasnya.

Terakhir, Benny Joewono merespon pernyataan Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo terkait sikap PW Jaya dalam membangun otoritas moral dan intelektual organisasi.

“Itu memang wajib menjadi konsep utama PWI Jaya. Dan itu harus dipertahankan. Kita wajib memberi teguran, memperingatkan, atau bahkan memberi punishment kepada anggota yang kurang atau bahkan tidak beretika. Mekanismenya tentu di Dewan Kehormatan yang lebih paham,” pungkasnya. Saefulloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Tim PDKB PLN UPT Cirebon Tuntaskan Perbaikan Hot Spot di GI Kamojang

17 March 2026 - 13:39 WIB

Hanif Faisol: Stasiun dan Terminal Harus Miliki Dokumen Persetujuan Lingkungan

15 March 2026 - 18:46 WIB

Mudik Tenang! BPJS Kesehatan Siagakan Layanan JKN Selama Libur Lebaran 2026

15 March 2026 - 15:16 WIB

Banu Bagaskara: Kebijakan THR PPPK Paruh Waktu Tidak Adil

14 March 2026 - 11:23 WIB

Danantara Tunjuk Investor Tiongkok untuk Proyek PSEL Bogor Raya

14 March 2026 - 10:15 WIB

Trending on Bogoh Ka Bogor