Menu

Dark Mode
Polemik Studio Game RI Mau Hengkang Karena Pajak dan Responsnya Ilmuwan Top Amerika Tewas Ditembak, Dunia Sains Berduka Indosat Rilis HiFi Air, Internet Rumah yang Bisa Dibawa Mudik Sirkulasi Siklonik Picu Hujan Lebat, Ini Daerah Berpotensi Terdampak Hentikan Pemborosan Anggaran, Pemerintah Tertibkan Belanja TIK Eliminasi TBC 2030 : Kota Bogor Perkuat Deteksi, Pengobatan dan Kolaborasi

Kabar Lifestyle

Prediksi Mengerikan: 5 Satelit Starlink Bisa Jatuh ke Bumi Per Hari

badge-check


					Prediksi Mengerikan: 5 Satelit Starlink Bisa Jatuh ke Bumi Per Hari Foto: Space Perbesar

Prediksi Mengerikan: 5 Satelit Starlink Bisa Jatuh ke Bumi Per Hari Foto: Space

angit malam yang dulu tenang kini makin sering dihiasi “bintang jatuh” buatan manusia. Data terbaru dari pensiunan astrofisikawan Harvard, Jonathan McDowell, mengungkap bahwa satu hingga dua satelit Starlink milik SpaceX jatuh kembali ke Bumi setiap hari. Tren ini diperkirakan akan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah satelit di orbit rendah Bumi (LEO).

McDowell melalui situsnya, Jonathan’s Space Report, mencatat lonjakan reentry satelit Starlink sejak peluncuran massal dimulai. Saat ini lebih dari 8.000 satelit Starlink sudah mengelilingi Bumi dan angka tersebut terus bertambah lewat peluncuran rutin roket Falcon 9 milik Elon Musk.

Tak hanya SpaceX, perusahaan seperti Amazon dengan proyek Kuiper hingga China juga menambah kepadatan orbit rendah Bumi. McDowell memproyeksikan dengan siklus penggantian lima tahun, jumlah satelit LEO bisa mencapai 30.000 unit lebih dalam waktu dekat. Artinya, bukan mustahil terjadi hingga lima reentry satelit per hari di masa depan.

Ancaman Sindrom Kessler

Kepadatan objek di orbit rendah Bumi meningkatkan risiko sindrom Kessler-reaksi berantai tabrakan antar benda di orbit yang menghasilkan ribuan puing baru. Satu benturan saja bisa memicu efek domino kosmik, memperparah risiko bagi satelit lain dan stasiun luar angkasa.

McDowell dan ilmuwan lainnya mendesak regulasi ketat agar perusahaan maupun negara bertanggung jawab terhadap satelit yang sudah habis masa pakainya. Tanpa aturan jelas, langit Bumi bisa berubah jadi “neraka orbit” yang berbahaya bagi manusia maupun teknologi.

Meteor atau Sampah Antrikasa? Begini Cara Bedakan

Fenomena cahaya melintas di langit malam yang sering viral di media sosial tidak selalu meteor alami. McDowell menjelaskan perbedaan paling mudah:

“Meteor dari orbit Matahari, bahkan bola api besar, hanya bertahan beberapa detik dan lenyap-wizzz! Sampah antarikasa bergerak lebih lambat seperti pesawat di ketinggian tinggi, bisa terlihat selama beberapa menit,” jelasnya.

Jadi, saat lihat cahaya lambat melintas langit malam, kemungkinan besar itu bukan tamu dari angkasa dalam, tapi korban orbit Bumi.

Aktivitas Matahari dan Malfungsi Roket

Tidak semua satelit jatuh karena tua. Aktivitas Matahari yang sedang tinggi-kita baru lewati maksimum siklus 25-bisa mempercepat akhir umur mereka. Badai geomagnetik memanaskan lapisan atas atmosfer, membuatnya “mengembang” dan meningkatkan hambatan aerodinamis.

Satelit LEO seperti Starlink, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dan satelit pengamatan Bumi pun terdampak, kehilangan ketinggian secara dramatis.

Contoh nyata: Awal 2022, badai Matahari menghancurkan 40 satelit Starlink yang baru diluncurkan, memaksa mereka reentry prematur. Operator bisa coba dorong satelit naik lagi, tapi jika gagal, ya sudah-selamat tinggal. Tren ini berlanjut di 2025, dengan aktivitas Matahari masih intens.

Faktor lain? Kesalahan teknis. Pada 11 Juli 2024, roket Falcon 9 gagal pada tahap kedua saat peluncurkan 20 satelit Starlink dari Vandenberg Space Force Base. Akibatnya, satelit-satelit itu terjebak di orbit terlalu rendah.

“Semua kecuali dua reentry pada hari peluncuran, dan yang terakhir pada 20 Juli-hanya delapan hari setelah diluncurkan,” kata McDowell. Ini kegagalan Falcon 9 pertama sejak 2015, menandakan risiko peluncuran massal.

Dampak Lingkungan

Lebih dari sekadar tontonan, reentry satelit tinggalkan jejak berbahaya. Penelitian NOAA 2023 ungkap, stratosfer-lapisan 11 km di atas permukaan, rumah ozon dan pesawat jet-penuh partikel logam eksotis dari satelit dan roket bekas.

Sekitar 10% partikel asam sulfat di sana mengandung aluminium, niobium, hafnium, tembaga, litium-jauh melebihi debu kosmik alami. Partikel ini bisa serap sinar Matahari, picu reaksi kimia rusak ozon, dan ubah kimia atmosfer secara tak terduga.

“Industri antarikasa jadi penyebabnya,” tegas peneliti NOAA. Dengan rencana ribuan peluncuran lagi, dampak ini bisa permanen-sebuah harga tersembunyi dari koneksi internet global.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Polemik Studio Game RI Mau Hengkang Karena Pajak dan Responsnya

27 February 2026 - 15:06 WIB

Ilmuwan Top Amerika Tewas Ditembak, Dunia Sains Berduka

27 February 2026 - 15:02 WIB

Indosat Rilis HiFi Air, Internet Rumah yang Bisa Dibawa Mudik

27 February 2026 - 14:58 WIB

Sirkulasi Siklonik Picu Hujan Lebat, Ini Daerah Berpotensi Terdampak

27 February 2026 - 14:52 WIB

Hentikan Pemborosan Anggaran, Pemerintah Tertibkan Belanja TIK

27 February 2026 - 14:48 WIB

Trending on Kabar Lifestyle