Menu

Dark Mode
Tim Sepakbola Kota Bogor Tampil Gemilang di Popwilda 2026 Ini Langkah Awal Arwinsyah Putra Usai Terpilih Jadi Ketua Kadin Apa Penyebab Tubuh Pegal Saat di Ruangan Ber-AC? Ini Kata Dokter Dukung Konektivitas Digital, MoraRepublic Operasikan SKKL Rising 8 Ada Organisme Raksasa di Bawah Tanah yang Menjaga Bumi Ancaman Hak Kekayaan Intelektual Makin Masif, Komdigi Perkuat Pengawasan

Kabar Lifestyle

Mengenal Androgenetik Alopesia, Penyebab Botak pada Pria dan Wanita

badge-check


					Ilustrasi rambut rontok.(Foto: FREEPIK) Perbesar

Ilustrasi rambut rontok.(Foto: FREEPIK)

Kerontokan rambut, bahkan jika sampai terjadi kebotakan, adalah momok bagi pria atau wanita. Salah satu jenis kerontokan yang paling umum adalah androgenetik alopesia. 

Androgenetik alopesia adalah kondisi kerontokan rambut yang disebabkan oleh kombinasi faktor genetik (keturunan) dan hormon (androgen). Kondisi ini sering disebut juga sebagai kebotakan pola pria atau kebotakan pola wanita. 

Dijelaskan oleh dr.Nilam Permatasari BMedSc, Sp.BP-RE, androgenetik alopesia merupakan jenis kerontokan rambut paling umum. 

“Jadi memang ada sebagian orang yang lebih sensitif terhadap hormon androgen tersebut,” ujar dr.Nilam dari The Clinic Beautylosophy ini kepada Kompas.com (4/9/2025).

Ia menambahkan, kerontokan pada androgenetik alopesia sangat khas.  

“Pada pria kerontokannya dimulai dari bagian depan atau penipisan di bagian ubun-ubunnya. Sekitar 80 persen berusia di atas 40 tahun yang mengalami kebotakan biasanya karena androgenetik alopesia ini,” paparnya. 

Sementara itu, ciri khas pada wanita penipisannya merata di bagian atas kepala atau garis rambut melebar.  

Bisakah kerontokan rambut diatasi 

Ada perawatan yang efektif untuk memperlambat, menghentikan, dan dalam beberapa kasus memulihkan sebagian pertumbuhan rambut.  

“Sudah ada bermacam pengobatan yang FDA approve untuk mengurangi kerontokan,” ujar dr.Nilam.

Menurut dr.Panji, karena kasus kerontokan ini disebabkan oleh hormon androgen, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan atau memblokir hormonnya. 

“Tetapi karena obat-obatan ini akan ngeblok hormon androgen, maka banyak pasien mengalami efek samping. Apalagi hormon akan terus diproduksi oleh tubuh kita sehingga obatnya harus terus-terusan. Sehingga sampai saat ini kita memerlukan berbagai macam opsi,” ujar dr.Panji yang berpraktik di ERHA clinic Jakarta ini. 

Terapi lain yang bisa dilakukan antara lain penggunaan laser, suntikan konsentrat platelet dari darah pasien (PRP) untuk merangsang pertumbuhan rambut. 

Opsi lain adalah transplantasi rambut untuk memulihkan rambut secara permanen di area yang sudah botak.  

Pilihan terapi terbaru adalah terapi ARCHE yang menggunakan chitosan yang diekstrak dari tanaman jamur. Chitosan ini memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi, anti-mikroba, dan juga mempercepat penyembuhan.

Menurut dr.Panji, terapi ini bersifat restorasi dan merangsang rambut.  

“Hasilnya efektif untuk merangsang pertumbuhan rambut. ARCHE juga sudah mendapat approval dari FDA,” katanya. 

Chitosan akan dioleskan atau diinjeksikan ke lapisan kulit kepala bagian atas menggunakan jarum mikro. Idealnya terapi ini dilakukan setiap minggu atau dua minggu sekali tergantung kondisi masing-masing orang.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Apa Penyebab Tubuh Pegal Saat di Ruangan Ber-AC? Ini Kata Dokter

18 June 2026 - 12:57 WIB

Dukung Konektivitas Digital, MoraRepublic Operasikan SKKL Rising 8

18 June 2026 - 12:53 WIB

Ada Organisme Raksasa di Bawah Tanah yang Menjaga Bumi

18 June 2026 - 12:49 WIB

Ancaman Hak Kekayaan Intelektual Makin Masif, Komdigi Perkuat Pengawasan

18 June 2026 - 12:44 WIB

Gara-gara Skandal Soal Ujian Bocor, Telegram Diblokir Sementara di India

18 June 2026 - 12:41 WIB

Trending on Kabar Lifestyle