Amerika Serikat tengah dihebohkan dengan kemunculan ‘kelinci zombie’ yang memiliki tanduk dan berpotensi menyebar ke seluruh dunia.
Ahli menyebut, keanehan kelinci ini terjadi lantaran penularan virus cottontail rabbit papilloma yang biasanya lewat gigitan nyamuk dan kutu.

Virus tersebut membuat kelinci tumbuh benjolan mirip kutil yang menjulur seperti tentakel di bagian kepala.
Kasus ini pertama kali ditemukan di Colorado, namun laporan penampakan kelinci bertanduk kini mulai bermunculan di berbagai wilayah Amerika Serikat, dilansir dari The Star, Jumat (29/8/2025).
Penyebaran virus ini bisa terjadi saat kelinci berkembang biak, juga melalui gigitan serangga yang sudah terinfeksi.
Para ahli khawatir fenomena ini bisa memicu perubahan evolusi mengerikan pada hewan yang biasanya dikenal lucu dan menggemaskan.
Dr. Omer Awan dari University of Maryland School of Medicine angkat suara soal wabah ini.
“Karena suhu bumi makin hangat, kita akan mulai melihat kasus ini semakin sering muncul dari tahun ke tahun, dan menyebar ke wilayah-wilayah baru yang sebelumnya tidak ada kasusnya. Saya percaya ini akan menjadi masalah yang semakin besar ke depannya,” ujarnya.
Meski begitu, Dr. Awan menyebut kemungkinan virus ini menular ke manusia sangat kecil. Namun, ia juga tidak bisa menjamin hal itu mustahil.
“Dalam ilmu pengetahuan, kita tidak pernah bisa bilang tidak mungkin. Virus selalu bisa bermutasi dan berubah dengan cepat. Saya tidak melihat hal itu akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi manusia tetap bisa terekspos tidak langsung lewat nyamuk atau kutu yang menggigit hewan terinfeksi, yang berarti risiko tertular penyakit lain tetap ada,” ujarnya.
Penyakit lain yang bisa menular lewat serangga ini antara lain Lyme Disease, Virus West Nile, Zika, dan Demam Berdarah Dengue.
Karena itu, Dr. Awan menyarankan masyarakat untuk menghindari kontak dengan kelinci yang terinfeksi, serta melindungi hewan peliharaan mereka dari gigitan serangga.
Penyebaran kelinci ini juga ramai dibicarakan di media sosial. Laporan terbaru menunjukkan penampakan terjadi hingga 1.600 km dari Colorado, tepatnya di Minneapolis.
Sebuah video yang diposting di X (Twitter) pekan lalu memperlihatkan seekor kelinci dengan wajah penuh benjolan di Sioux Falls, South Dakota.
Gejala Virus
Gejala awal kelinci terinfeksi virus yang juga dikenal sebagai Shope papillomavirus adalah munculnya bintik merah di kulit. Lama-kelamaan, bintik ini berubah menjadi kutil mirip tumor.
Dalam banyak kasus, kutil tersebut berkembang menjadi papilloma, atau yang disebut “tanduk” dan “tentakel”.
Beberapa di antaranya bahkan bisa berubah menjadi karsinoma, yakni kanker kulit berbahaya yang bisa mematikan jika tidak segera ditangani.
Dr. Awan menambahkan soal ancaman dari benjolan ini.
“Benjolan itu bisa menghalangi penglihatan mereka, menutup area mulut, dan membuat kelinci sulit makan hingga akhirnya kelaparan. Selain itu, kondisi itu juga bikin mereka lebih mudah jadi mangsa predator. Jadi jelas ini sangat merugikan,” jelasnya.
Hingga kini, belum ada laporan kasus di Inggris. Namun Dr. Awan menegaskan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama kenapa kasus ini makin meluas.
“Nyamuk dan kutu berkembang biak dengan baik di suhu hangat. Karena mereka makin mudah berkembang, makin banyak juga kelinci yang terinfeksi. Akhirnya jumlah kasus terus bertambah,” katanya.
Ia menutup dengan peringatan.
“Perubahan suhu akibat iklim membuat penyakit yang dulu tidak pernah muncul di suatu wilayah, kini jadi bisa menetap di sana,” ujarnya.
Sumber: liputan6.com