Apple Developer Academy resmi dibuka di Bali sejak Maret 2025 lalu melalui kerja sama dengan Universitas BINUS. Angkatan perdana diikuti lebih dari 100 siswa dari 32 kota di Indonesia.
Bukan cuma siswa dari Indonesia. Untuk pertama kalinya, Apple Developer Academy juga menerima siswa intrnasional dari 12 negara berbeda.

Menurut John Keating, salah satu mentor di Apple Developer Academy, keberagaman di Apple Developer Academy Bali terasa lebih kuat dibanding lokasi lainnya.
Hal ini karena akademi di Bali juga diikuti oleh siswa mancanegara. John menilai keragaman ini justru menjadi kekuatan utama program.
“Akademi di Bali memiliki keberagaman yang lebih luas. Selain peserta dari berbagai kota di Indonesia, kami juga memiliki siswa mancanegara. Keberagaman ini membuat pembelajaran lebih kaya dan membantu siswa saling bertukar perspektif,” ujar John ke beberapa awak media dalam kunjungan Apple Developer Academy di Denpasar, Bali, Jumat (29/8/2025).
Apple Developer Academy mengadopsi kurikulum dengan pendekatan challenge-based learning.
Melalui metode ini, siswa diajak mengidentifikasi tantangan pribadi, komunitas, maupun global, sekaligus merancang solusi inklusif yang memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
Para siswa didampingi oleh mentor berpengalaman, baik dari Indonesia maupun mancanegara.
Kehadiran mentor dengan latar belakang beragam diharapkan bisa membuat proses pembelajaran lebih kaya perspektif, mulai dari sisi teknis, desain, hingga pengembangan profesional.
Dalam kurikulum ini, siswa dibekali lima pilar utama, yaitu Coding, Design, App Market, Process, dan Professional Skills.
Coding menjadi fondasi untuk mengasah kemampuan teknis dalam mengembangkan aplikasi. Sementara itu, Design memastikan setiap produk yang dibuat tetap ramah dan mudah digunakan oleh pengguna.
Tidak hanya dari sisi teknis, kurikulum juga menekankan aspek bisnis melalui App Market, yang membekali siswa dengan pemahaman pasar dan strategi distribusi aplikasi.
Pilar berikutnya adalah Process, yang mengajarkan manajemen proyek serta kolaborasi tim agar pengembangan aplikasi dapat berjalan terstruktur.
Terakhir, ada Professional Skills yang berperan mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja global, termasuk komunikasi, kepemimpinan, dan etika profesional.
Melalui kombinasi lima pilar ini, siswa diharapkan berkembang menjadi T-Shaped professional.
Artinya, mereka memiliki keahlian mendalam di bidang teknis sekaligus wawasan lintas disiplin, seperti desain, bisnis, dan keterampilan profesional.
Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan mampu berkolaborasi lebih efektif dan menjembatani berbagai bidang keahlian dalam sebuah proyek teknologi.
Pengembangan soft skill dan profesionalitas
Selain membekali siswa dengan kemampuan teknis, Apple Developer Academy juga menekankan soft skill dan profesionalitas.
Salah satu mentor, Richard Evan Sutanto, mengatakan bahwa Apple Developer Academy bukan hanya memberikan materi, tetapi juga mendampingi siswa dalam menghadapi tantangan psikologis seperti impostor syndrome.
“Di sini para siswa tidak hanya belajar hard skill, tapi juga soft skill. Mentor berperan bukan sekadar mengajar materi, tetapi juga membangun profesionalitas,” kata Richard.
“Kami paham banyak siswa yang tak jarang merasakan demotivasi saat melalui proses. Untuk itu kami melakukan observasi serta sesi one-on-one agar mereka bisa bertanya dan mendapatkan dukungan langsung,” imbuhnya.
Dengan fasilitas modern, kurikulum berstandar internasional, serta dukungan langsung dari Apple dan Kementerian Perindustrian, Apple Developer Academy @BINUS Bali diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan talenta digital paling berpengaruh di kawasan Asia.
Kehadirannya bukan hanya memperkuat ekosistem teknologi di Indonesia, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas negara yang dapat mendorong lahirnya inovasi berkelas dunia.
Program ini sekaligus menegaskan komitmen Apple terhadap investasi jangka panjang di Indonesia.
Melalui pengembangan sumber daya manusia, riset, hingga pendirian pusat inovasi baru, Indonesia berpeluang menempatkan diri sebagai salah satu pemain penting dalam peta ekonomi digital global.
Harapannya, lulusan akademi ini tak hanya menjadi tenaga ahli yang kompetitif, tetapi juga pionir yang mampu menghadirkan solusi teknologi inklusif dan relevan bagi masyarakat luas.
Sumber: kompas.com