Menu

Dark Mode
Menaker Pastikan Hak Jaminan Sosial Korban Kecelakaan KA Bekasi Terpenuhi Hut ke-50, Summarecon Gelar Operasi Katarak Gratis di Bogor Ngeri! Buaya Raksasa Masuk Dapur Hotel Mewah, Heboh di Medsos Samsung QLED Q5F 43 Inci Rilis di RI, TV Rp 4 Jutaan 7 Tahun Update Wujudkan Dokter Cerdas dan Masyarakat Sehat, IDI Kota Bogor Tampilkan Inovasi Digital May Day 2026, BPJS Ketenagakerjaan se-Jakarta Selatan Sebar Ratusan Sembako

Kabar Bogor

Kota Bogor Dirancang Sebagai Kota Hijau Sejak Awal Berdiri

badge-check


					Wali Kota Bogor Dedie Rachim.
(Foto: Kominfo Kota Bogor) Perbesar

Wali Kota Bogor Dedie Rachim. (Foto: Kominfo Kota Bogor)

Bogor punya potensi untuk mengajukan ke UNESCO agar dijadikan salah satu Kota Hijau pertama di Asia. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, Rabu (6/8/2025).

Menurut Dedie, bukan semata-mata Kebun Raya sebagai taman fisik, melainkan konsep perencanaan kota berbasis ruang hijau, filosofi menjadikan Kebun Raya sebagai pusat kota, identitas ekologis dan budaya Kota Bogor, kekhasan tata kota yang sangat langka di dunia, serta nilai sejarah, sosial, dan budaya yang melekat padanya.

“Jadi Bogor punya potensi untuk mengajukan kepada UNESCO untuk dijadikan sebagai salah satu kota hijau pertama di Asia yang memiliki internasional value, karena berdasarkan perencanaan sejak awal, Bogor itu menjadikan Kebun Raya sebagai pusat kota dan di dalam perencanaan perkotaan, ini jarang ada, hanya ada Bogor dan New York,” tutur Dedie .

Dedie Rachim menambahkan, kalau di Bogor itu ada Kebun Raya, di New York ada Central Park. Menurutnya, ini sangat layak untuk diajukan ke UNESCO sebagai bagian dari nilai-nilai tak benda yang bisa menjadikan Bogor lebih dikenal lagi di dunia.

Sementara itu menurut Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjaga pusaka tidak hanya sebagai obyek, tetapi sebagai proses sosial yang hidup serta harus dirawat lewat dialog, partisipasi, dan keberanian. Menurutnya ada sebuah tendensi dalam setiap upaya pelestarian, yakni manusia sering kali tanpa disadari lebih fokus pada yang “tangible”, seperti bangunan, struktur, zona, dan kawasan, sehingga, perlahan-lahan lupa pada yang “intangible”, seperti nilai-nilai, ingatan kolektif, praktik hidup, dan makna yang membentuk jiwa dari tempat itu sendiri.

“Nilai-nilai dasar harus menjadi jangkar, tetapi cara menjaganya perlu terus berkembang, lebih inklusif, responsif, dan lebih berakar pada kesadaran kolektif masyarakat kota itu sendiri. Karena sejatinya, yang ingin dirawat bukan hanya obyek, tetapi jati diri yang terus hidup di dalamnya,” ungkapnya.

JKPI menurut Hamengkubowono, punya peran strategis untuk menjadi lokomotif dalam proses ini, bukan hanya sebagai penjaga pusaka, tetapi sebagai penggerak yang mampu menempatkan warisan sebagai sumber daya nilai dalam membentuk masa depan kota secara cerdas, beretika, dan kontekstual.

“Sehingga mari kita pastikan bahwa Rakernas JKPI 2025 ini dapat memantapkan arah bersama, agar pelestarian yang kita lakukan bukan hanya reaktif, administratif, atau simbolik, melainkan benar-benar menyentuh jantung kehidupan masyarakatnya. Sebab kota pusaka adalah kota yang hidup dan menghidupi, yang bukan hanya berdiri, tapi juga bermakna,” tutupnya. Haris Al Basith/KMF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hut ke-50, Summarecon Gelar Operasi Katarak Gratis di Bogor

4 May 2026 - 08:34 WIB

Wujudkan Dokter Cerdas dan Masyarakat Sehat, IDI Kota Bogor Tampilkan Inovasi Digital

2 May 2026 - 12:19 WIB

Rapat Paripurna DPRD, Dedie Rachim Sampaikan Penguatan Struktur Perangkat Daerah

30 April 2026 - 08:58 WIB

Kenalkan Pasar Tradisonal Sejak Dini, Pelajar SD High Scope Indonesia Serbu Pasar Gembrong

29 April 2026 - 15:12 WIB

Ikhtiar KONI Kota Bogor Penuhi Target 100 Emas

28 April 2026 - 09:32 WIB

Trending on Kabar Bogor