Menu

Dark Mode
Semangat Bulan Muharram 1448 H di Tengah Tantangan Ekonomi Indonesia Pertamina Pastikan Penyaluran BBM di Seluruh SPBU Jabodetabek Tetap Berjalan Optimal Gerak Jalan Sehat Harkopnas Meriah, Ketua DPRD Bogor Apresiasi Peran Koperasi Di Mana Letak Kota Bizantium yang Hilang? OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang Apple Gugat OpenAI atas Tuduhan Pencurian Rahasia Dagang

Kabar Bogor

Dedie Rachim Hadiri Pembukaan MTQH ke-39 di Soreang

badge-check


					Dedie Rachim Hadiri Pembukaan MTQH ke-39 di Soreang Perbesar

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bertolak menuju Soreang, Kabupaten Bandung, untuk menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) ke-39 tingkat Provinsi Jawa Barat, Minggu (15/6/2025).

Dedie Rachim mengungkapkan bahwa pembinaan melalui Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), pesantren, dan sekolah-sekolah terus dilakukan guna menemukan bakat-bakat terpendam dari para qori dan qoriah masa depan.

Menurutnya, bidang keagamaan menjadi hal yang sangat penting, karena pembangunan tidak hanya berupa pembangunan fisik atau infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia.

“Sehingga lahirlah manusia-manusia yang bisa menjadi teladan,” ujar Dedie Rachim.

Melihat prestasi yang pernah diraih para kafilah di tahun-tahun sebelumnya, Dedie Rachim optimistis tahun ini Kota Bogor kembali bisa membawa pulang gelar juara, karena kemampuan para kafilah sudah tidak diragukan lagi.

Selain itu, Dedie Rachim juga menyiapkan bonus khusus atau “kadeudeuh” bagi para kafilah jika Kota Bogor berhasil meraih juara.

“Kita doakan semoga kontingen Kota Bogor bisa juara,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada LPTQ yang telah sukses menyelenggarakan kegiatan ini.

Dedi Mulyadi menuturkan bahwa saat ini kita memasuki fase di mana Al-Qur’an diagungkan. Menurutnya, Al-Qur’an yang diagungkan adalah yang dibaca dengan estetika yang indah.

“Pembacaan itu pada akhirnya akan melahirkan pemaknaan. Karena nilai-nilai agama, jika tidak disampaikan secara estetika, maka kita tidak akan bisa memahami Sang Maha Kuasa,” ucapnya.

Kendati demikian, seiring dengan perkembangan zaman, muncul modernisasi dalam pembacaan Al-Qur’an dengan pendekatan metodologi mikro.

“Misalnya saja, metode cepat menghafal Al-Qur’an atau cepat membaca Al-Qur’an. Namun, prosesnya ditinggalkan,” ungkap Dedi Mulyadi.

Hal itu, menurutnya, memang baik secara syiar, tetapi di balik itu masjid-masjid justru sepi dari anak-anak yang mengaji. Mereka tidak mengenal dan tidak merasa dekat dengan masjid.

“Yang penting bisa baca Al-Qur’an, tapi kedekatan emosional dengan guru dan masjidnya hilang. Akhirnya, mereka jauh dari masjid,” tuturnya.

Ia menambahkan, dengan metodologi seperti itu, kenikmatan dalam menjalani proses akan hilang.

“Dulu belajar membaca Al-Qur’an bisa butuh waktu 2–3 tahun, bahkan ada yang sampai 5 tahun. Panjang sekali prosesnya,” ucap Dedi.

Dalam proses belajar itulah, kata dia, terjadi perjalanan spiritual, kedekatan antara guru dan murid serta masjid. Tidak lepas, kemudian guru mulai mengajarkan makna dari Al-Qur’an.

“Maka Al-Qur’an itu tersublimasi dalam pikiran dan relung bawah sadar murid. Karena lahir dari bawah sadar, maka bacaannya penuh makna dan lahirlah keikhlasan,” tuturnya. KMF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Gerak Jalan Sehat Harkopnas Meriah, Ketua DPRD Bogor Apresiasi Peran Koperasi

12 July 2026 - 19:22 WIB

Festival Muharam 1448 H, Ketua DPRD Bogor Apresiasi Program Sosial Masjid Alumni IPB

11 July 2026 - 19:22 WIB

Urai Kemacetan Tengah Kota, Pemkot Bogor Optimalkan Lahan Akses Jalan R2

10 July 2026 - 19:35 WIB

Disidak Satpol PP, Pengelola Teras Nona Manis dan Tipzy Bears Beberkan Kronologi

8 July 2026 - 17:45 WIB

Legalitas Wakaf Alun-Alun Empang Teruji dan Sesuai Aturan

7 July 2026 - 18:29 WIB

Trending on Kabar Bogor