Menu ✖

Dark Mode
Para Wali Kota Peserta Mayor’s Talk Nikmati Kesejukan Kota Bogor. Hapkido Kota Bogor Raih Medali di Kejurnas Nvidia Rilis OpenShell dan Sentry, Platform Pengaman Agen AI Nakal Denny Mulyadi Resmi Menutup Mayor’s Talk: Climate and Urban Resilience 2026 Peneliti Bor Lokasi Diduga Bahtera Nabi Nuh, Mata Bor Mendadak Pecah Kalah di Pengadilan, Meta Terancam Denda Rp 3.900 Triliun

Headline

Peneliti Temukan Varian Baru Virus Corona

badge-check


					Peneliti Temukan Varian Baru Virus Corona Perbesar

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan Strain atau varian baru virus corona di Inggris. Strain baru itu membuat Covid-19 lebih cepat menyebar sehingga terjadi peningkatan kasus di bagian tenggara Inggris.

Sedikitnya sekitar 1.000 orang tercatat terinfeksi Covid-19 strain baru tersebut.
Kabar mengenai virus yang berubah dan bermutasi memang terdengar menyeramkan. Namun wajar jika virus akan bermutasi dan kita tak perlu panik.

Virus dapat memiliki perubahan kecil atau mengubah dirinya sedemikian rupa sehingga memberi dampak buruk saat menginfeksi seseorang.

Tidak ada bukti jelas apakah strain baru dari virus corona yang terdeteksi di beberapa bagian Inggris bisa menginfeksi orang dengan lebih mudah, memicu gejala lebih serius atau membuat vaksin tidak berguna.

Namun, fenomena strain baru di Inggris tenggara menjadi perhatian para ilmuwan. Pertama, tingkat varian virus lebih banyak di area di mana kasus lebih tinggi ditemukan.

Virus dapat bermutasi untuk menyebar lebih mudah dan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi.

Tetapi ada kemungkinan varian baru virus juga mendapat celah dengan menginfeksi orang yang tepat atau rentan pada waktu yang tepat.

Contohnya, penyebaran Spanish strain atau strain Spanyol di musim panas kemarin, di mana orang-orang terpapar virus selama berlibur, kemudian membawa virus tersebut pulang ke rumah.

Spanish strain adalah jenis virus corona yang muncul di Spanyol pada bulan Juni, dan menyebar ke seluruh Eropa di akhir musim panas dan musim gugur.

Diperlukan eksperimen di laboratorium untuk mengetahui apakah varian baru virus corona menyebar lebih efektif dibandingkan varian sebelumnya.

Masalah lain yang juga menjadi pertanyaan para ilmuwan adalah bagaimana virus corona bermutasi.

“Ini memiliki jumlah mutasi yang sangat besar, lebih dari yang kita perkirakan, dan beberapa terlihat menarik,” kata Prof Nick Loman dari Covid-19 Genomics UK (COG-UK).

Dua jenis

Ada dua jenis mutasi virus corona. Keduanya ditemukan dalam protein spike, kunci yang digunakan virus untuk membuka pintu masuk ke sel-sel tubuh seseorang.

Protein spike atau protein lonjakan ini bentuknya meruncing seperti paku dan menancap di permukaan virus.

Mutasi N501 mengubah bagian terpenting dari protein lonjakan, yang dikenal sebagai domain pengikat reseptor. Di sinilah protein lonjakan melakukan kontak pertama dengan permukaan sel tubuh seseorang.

Segala perubahan yang mempermudah virus untuk masuk ke dalam tubuh akan memberikan keuntungan bagi virus tersebut.

Mutasi virus lainnya yang bernama H69/V70 telah muncul beberapa kali.

Ada kekhawatiran antibodi dari darah survivor atau penderita kurang efektif menyerang varian virus tersebut.

Prof Alan McNally dari University of Birmingham mengatakan jika varian baru virus memang ada tetapi informasi yang terkumpul belum final.

“Masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan tentang penting atau tidaknya varian baru ini,” tambahnya.

Vaksin

Mutasi pada protein lonjakan menimbulkan pertanyaan tentang keefektifan vaksin virus corona.

Pasalnya, tiga vaksin dari Pfizer, Moderna, dan Oxford melatih sistem kekebalan untuk menyerang lonjakan tersebut.

Namun, tubuh belajar menyerang beberapa bagian protein lonjakan. Itulah alasannya pejabat kesehatan yakin vaksin bisa bekerja dengan baik melawan strain virus ini.

Jika dibandingkan antara sampel virus yang diambil saat ini dengan sampel yang pertama kali terlihat di Wuhan, China, terdapat sekitar 25 mutasi virus.

Kemunculan strain virus lain yang diberi nama G614 dipandang banyak orang sebagai virus yang memiliki kemampuan menyebar lebih baik.

Imunisasi atau pemberian vaksin secara massal diprediksi akan membuat virus bekerja lebih keras untuk menginfeksi orang yang sudah mendapat vaksin.

Apabila vaksin yang ada nantinya mendorong virus untuk berevolusi, artinya vaksin juga harus diperbarui secara teratur.

Sumber: Kompas.com
Editor: Adi Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Website PWI Terkonsolidasi di 38 PWI Daerah, Serentak Dilaunching 1 Oktober 2026

22 September 2026 - 21:47 WIB

BNN DAN AFP SEPAKAT PERKUAT KEMITRAAN LAWAN ANCAMAN NARKOTIKA LINTAS NEGARA

22 September 2026 - 21:34 WIB

Pemerintah Tetapkan 18 Hari Libur Nasional dan 8 Hari Cuti Bersama Tahun 2027

15 September 2026 - 20:36 WIB

Abu Vulkanik Menyebar, Kalbe Consumer Health dan PWI Kota Bogor Bagikan Masker 

9 September 2026 - 18:42 WIB

Galuga Kebakaran, Pemkot Bogor Gercep Padamkan

8 September 2026 - 21:24 WIB

Trending on Headline