Menu

Dark Mode
Buku Pelajaran Perlu Diperbarui, Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Pipih Canon Rayakan 30 Tahun PowerShot Lewat G7 X Mark III Edisi Khusus ChromeOS Bakal Pensiun, Diganti Aluminium OS untuk Chromebook Bonobo Bisa Bermain Pura-pura Layaknya Manusia, Ilmuwan Kagum PPLI Dukung Program 1 Hektar Hutan Kota Pemkab Bogor Peduli Lingkungan, PMC dan Kecamatan Bojonggede Tanam Pohon

Headline

Makhluk Ini Lindungi Kita dari Jutaan Virus

badge-check


					Makhluk Ini Lindungi Kita dari Jutaan Virus Perbesar

Belakangan ini pembahasan mengenai virus corona covid-19 dan penyebarannya menjadi topik yang dibahas hampir setiap hari oleh masyarakat. Virus sendiri sebenarnya adalah organisme mikroskopik, sangat kecil, yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan cenderung bersifat parasit. Virus bisa terdapat di hampir semua ekosistem, baik di darat maupun di laut.

Dalam ekosistem laut, diperkirakan terdapat puluhan juta jenis virus yang berbeda. Para peneliti bahkan menemukan, di setiap 1 mililiter air di lautan  terdapat 10 juta virus yang tersebar.

Namun jangan dulu panik Sahabat Dream. Kita masih diberi keberuntungan karena banyak spesies hewan laut yang melindungi manusia dan hewan laut lainnya dari virus di lautan lho.

Berikut Dream sajikan informasi mengenai organisme yang menjadi pelindung dari virus-virus di laut buat kamu.

Dalam sebuah studi yang dipimpin oleh ahli ekologi kelautan, Jennifer Welsh dari Institut Penelitian Laut Kerajaan Belanda (NIOZ), mereka menemukan bahwa tidak semua virus dapat menginfeksi setiap makhluk hidup. Beberapa hewan bahkan bisa memangsa virus, ketika dikeluarkan dari ekosistemnya.

” Virus adalah entitas biologis paling melimpah di laut. Namun, terlepas dari potensi implikasi ekologisnya, ternyata tidak banyak yang tahu bahwa virus bisa dihilangkan oleh organisme non-inang sekitar,” jelas Welsh dan timnya.

Dalam serangkaian percobaan di laboratorium, para peneliti memeriksa bagaimana berbagai organisme laut non-inang bisa menghilangkan partikel virus dari lingkungan akuatik mereka. Baik melalui pemangsaan aktif, atau melalui mekanisme pasif, seperti pengumpan filter dan organisme. Sehingga menciptakan hambatan fisik antara parasit virus dan inangnya.

Dari sepuluh spesies hewan berbeda yang diuji, kepiting, kerang, tiram, dan bunga karang ternyata paling efektif dalam mengurangi virus.

Dalam percobaan tersebut, bunga karang bisa mengurangi virus hingga 94 persen dalam waktu tiga jam. Bahkan setelah 24 jam penuh, angka itu mencapai 98 persen dan dapat menghilangkan virus.

Eksperimen lain menunjukkan bahwa penghilangan virus terjadi sangat cepat dan efektif. Bahkan, jika peneliti memasukkan virus baru ke air setiap 20 menit, bunga karang tetap sangat efektif dalam menghilangkan virus

Dibandingkan dengan bunga karang, kepiting adalah hewan kedua yang paling efektif. Kepiting dapat mengurangi virus sebesar 90 persen selama 24 jam, sementara kerang berhasil 43 persen, dan tiram 12 persen.

Menurut Welsh, hasil yang didapatkan dari uji beberapa spesies, mungkin saja akan berbeda jika terjadi di alam liar. Karena terdapat berbagai perubahan perilaku yang dapat terjadi di lingkungan akuatik yang beragam, belum lagi sejumlah variabel lingkungan lainnya yang berperan di bawah laut.

” Situasinya jauh lebih kompleks, karena banyak spesies hewan lain hadir dan saling mempengaruhi,” kata Welsh.

” Misalnya, jika tiram menyaring dan kepiting datang, ia menutup katupnya dan berhenti menyaring. Selain itu, ada faktor-faktor seperti arus pasang surut, suhu, dan cahaya matahari yang perlu dipertimbangkan.”

Meskipun demikian, para peneliti berpikir bahwa kemampuan alami hewan non-inang ini suatu hari bisa dimanfaatkan untuk mengurangi jumlah partikel virus di laut. Terutama dalam pertanian akuakultur, di mana organisme seperti bunga karang dapat digunakan sebagai perisai untuk membantu melindungi populasi pertanian dari patogen virus.

“ Apakah bisa atau tidaknya diterapkan memang masih harus dilihat lagi. Namun yang jelas saat ini, tim berpikir, bahwa bahwa proses penghapusan virus yang sedang berlangsung di lautan ini adalah sesuatu yang sejauh ini terlalu diabaikan.

” Pengaruh organisme non-host di lingkungan sekitar, benar-benar merupakan faktor yang telah diabaikan dalam ekologi virus” , kata Welsh.

Saat ini, Welsh dan timnya juga masih mengeksplorasi penelitian yang serupa. Dia masih meneliti bagaimana interaksi parasit-inang tidak terjadi dalam ruang hampa ekologi, dan dipengaruhi oleh berbagai fauna dan mekanisme flora

Sumber : Pexels.com

Foto : pexels.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PPLI Dukung Program 1 Hektar Hutan Kota Pemkab Bogor

5 February 2026 - 23:26 WIB

HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi

3 February 2026 - 13:01 WIB

Kepala BNN RI Dukung Penguatan Koordinasi Nasional

2 February 2026 - 09:17 WIB

Jalan Batutulis Retak, Dedie Rachim Instruksikan Tutup Jalur Sepeda Motor

30 January 2026 - 18:56 WIB

Kasum TNI Tinjau Pembangunan Huntara-Huntap di Tapanuli Selatan

30 January 2026 - 18:17 WIB

Trending on Headline