Menu

Dark Mode
Startup Ini Bikin Tempat Tinggal di Bawah Laut Ala Bikini Bottom Krisis Iklim Bisa Bikin Manusia Makin Kesepian Apple Uji Chip Memori China Buat Respons Krisis Pasokan Datangi Mapolresta, Kabag Hukum dan HAM Pemkot Bogor Adukan Dugaan Pencemaran Nama Baik Launching Layanan Fertilitas Embria, Pemkot Bogor Dorong Pengembangan Teknologi Kesehatan Nvidia Suntik Firmus, Pabrik AI 170.000 GPU di Batam Dikebut

Kabar Dunia

Horor Alat-Alat Penyiksaan pada Masa Lalu

badge-check


					Horor Alat-Alat Penyiksaan pada Masa Lalu Perbesar

KORIDOR gelap menyambut di balik pintu, diikuti ruang-ruang kecil temaram yang memajang alat-alat penyiksaan dan gambaran eksekusi mati menyeramkan pada masa lalu.

Lantai kayu yang berderit kriet…kriet menambah kesan horor di Torture Museum, Amsterdam, Belanda.

Semburat cahaya berwarna-warni; merah, kuning, biru menyorot ke sejumlah instrumen eksekusi. Ada ambin penuh jarum maupun kursi “Inquisition Chair” dengan besi-besi yang mencuat tajam.

Juga ada Skullcracker, The Saw, Garotte, Thumb Screw, Judas Cradle, dan The Rack — alat-alat penyiksaan yang terlalu sadis untuk diungkapkan bagaimana cara kerjanya.

Guillotine, jenis alat eksekusi yang menyudahi nyawa Raja Prancis Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette pada 1793, ikut dipajang.

Tak banyak yang tahu, penggunaan guillotine dalam eksekusi mati di Prancis secara resmi baru dihapus pada 1981. Sejarah mencatat, pria asal Tunisia, Hamida Djandoubi menjadi orang terakhir yang dihukum mati dengan pisau raksasa itu. Ia dieksekusi pada 10 September 1977.

Ada sekitar 40 alat eksekusi yang dipamerkan di Torture Museum, lengkap dengan ilustrasi penggunaannya dan informasi latar belakang sejarah dalam delapan bahasa, termasuk Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan Spanyol.

Namun, tak gampang untuk membaca brosur-brosur yang dipajang dengan pencahayaan yang temaram. Hurufnya pun kecil-kecil. Sementara, tak ada perlengkapan audio maupun video di dalam museum — bahkan tiada musik pengiring sekalipun.

Karena tempatnya yang kecil dan jumlah objek yang dipamerkan terbatas, durasi kunjungan ke Torture Museum berlangsung relatif singkat, hanya dalam hitungan menit. Kecuali, jika pengunjung berniat memerhatikan secara rinci satu demi satu alat penyiksaan yang dipajang.

Pencahayaan yang buruk di dalam museum mengaburkan kondisi sejumlah alat yang kian berkarat.

“Tak semua alat yang dipajang asli, hanya replika. Hanya yang di kotak kaca yang sungguhan,” kata Gerry, staf penjualan tiket museum.

Pantauan Liputan6.com, tak ada keterangan soal keaslian alat-alat eksekusi tersebut di dalam museum maupun di situs resmi Torture Museum. Jadi, tak jelas mana yang asli maupun replika.

Pria keturunan Suriname itu menambahkan, tak hanya orang dewasa yang jadi pengunjung museum, tapi juga anak-anak — meski, apa yang dipamerkan di sana terlalu kejam untuk para bocah.

“Tak sedikit anak-anak yang datang, bahkan pada malam hari,” kata Gerry.

Torture Museum, yang terletak di seberang Flower Market, di dekat Kalverstraat, buka dari pukul 10.00 hingga 23.00 waktu Amsterdam. Harga tiket masuk museum untuk dewasa dibanderol 7,5 euro, sementara untuk anak-anak 4 euro.

****

Sumber : liputan6

Foto : liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sekolah Terluar Terbantu Internet Gratis Pemerintah, Tapi…

13 June 2026 - 14:28 WIB

Tak Mau AI Lepas Kendali, Pemerintah Pastikan Perpres AI Terbit Tahun Ini

12 June 2026 - 19:31 WIB

Elon Musk Jadi Manusia Pertama di Dunia dengan Kekayaan Rp 8.311 Triliun

5 October 2025 - 10:50 WIB

Orang-orang Abad ke-20 Santap Daging Gajah Mamut Jadi Steak

3 October 2025 - 11:15 WIB

Ilmuwan Prediksi Alam Semesta Bakal Mengalami Kiamat Kosmik

2 October 2025 - 11:16 WIB

Trending on Kabar Dunia