Menu ✖

Dark Mode
Libas KBB, Basket Kota Bogor Berebut Tiket Semifinal Lawan Kabupaten Bandung Kacamata Meta Masuk RI, Awas Privasi Warga Terancam Direkam Diam- Diam Ilmuwan Temukan Sel Darah Dinosaurus di Fosil untuk Pertama Kalinya Demokrat Menang, Ratusan Proyek Data Center AI Terancam Karhutla hingga Banjir Dominasi Bencana Indonesia Sepanjang 2026 Kenapa Hacker Targetkan Kulkas Supermarket di Eropa? Ini Kata Pakar

Kabar Dunia

Wow Bangunan Ini Bisa Dilipat

badge-check


					Wow Bangunan Ini Bisa Dilipat Perbesar

SEBUAH bangunan pencakar langit yang terinspirasi seni melipat kertas khas Jepang, origami, berhasil memenangkan kompetisi desain arsitektur terbaik di dunia.

Gedung yang bernama Skyshelter.zip itu mengusung struktur konstruksi lipat, yang benar-benar dapat dilipat dalam arti sesungguhnya.

Ketika dilipat, bangunan pencakar langit tersebut dapat dipindahkan dengan bantuan helikopter ke daerah-daerah bencana, untuk kemudian difungsikan sebagai penampungan sementara.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Senin (23/4/2018), bangunan lipat ini bahkan dapat dilabuhkan di atas tanah yang kondisinya tidak stabil, dan segera membangunnya dengan dorongan balon helium raksasa yang ada di dalamnya.

Desain pemenang kompetisi Kompetisi Pencakar Langit 2018 yang digelar oleh majalah eVolo itu dirancang oleh kolaborasi tiga mahasiswa arsitektur asal Polandia, yakni Damian Granosik, Jakub Kulisa dan Piotr Pańczyk.

Sebuah bangunan pencakar langit yang terinspirasi seni melipat kertas khas Jepang, origami, berhasil memenangkan kompetisi desain arsitektur terbaik di dunia.

Gedung yang bernama Skyshelter.zip itu mengusung struktur konstruksi lipat, yang benar-benar dapat dilipat dalam arti sesungguhnya.

Ketika dilipat, bangunan pencakar langit tersebut dapat dipindahkan dengan bantuan helikopter ke daerah-daerah bencana, untuk kemudian difungsikan sebagai penampungan sementara.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Senin (23/4/2018), bangunan lipat ini bahkan dapat dilabuhkan di atas tanah yang kondisinya tidak stabil, dan segera membangunnya dengan dorongan balon helium raksasa yang ada di dalamnya.

Desain pemenang kompetisi Kompetisi Pencakar Langit 2018 yang digelar oleh majalah eVolo itu dirancang oleh kolaborasi tiga mahasiswa arsitektur asal Polandia, yakni Damian Granosik, Jakub Kulisa dan Piotr Pańczyk.

Sementara itu, duduk di posisi kedua adalah Tonly Leung, seorang mahasiswa arsitektur asal Hong Kong, dengan kreasi rancang bangunnya yang bertajuk Shinto Shrine Skyscraper.

Rancangan tersebut berusaha mengembalikan interaksi tradisional antara Kuil Shinto, dan padatnya mobilitas manusia di kawasan Ginza, Tokyo.

Bangunan tersebut juga dimaksudkan sebagai pusat kegiatan untuk pertanian urban, area meditasi, dan pengembangan komunitas-komunitas lokal.

Adapun di posisi ketiga, bertengger Claudio Araya Arias dari Chile, dengan mengusung desain Waria Lemuy: Pilar Pencegah Kebakaran.

Desain ini merupakan usulan perumahan vertikal dengan kearifan lokal, yang dapat dibangun di atas lahan-lahan rusak akibat bencana kebakaran hutan.

Proyek ini memanfaatkan sistem pasif untuk mengurangi angin, sekaligus menyiramkan lebih banyak air, ketika muncul potensi kebakaran.

Beberapa desain lain yang turut dipuji adalah bangunan yang bisa bantu mencegah fenomena penggurunan, hotel mengapung yang mengubah air laut menjadi air tawar, menara pengumpul kabut di daerah kering, dan masih banyak lainnya.

***

Sumber : Independent.co.uk

Foto : liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Ada Apa Peneliti Roket, Satelit, dan Drone Sedunia Kumpul di Yogyakarta?

4 October 2026 - 16:51 WIB

Padamkan Karhutla, Pemerintah Libatkan 300 Unit Usaha

23 September 2026 - 16:05 WIB

5 Tanaman Unik dan Aneh di Dunia

22 September 2026 - 22:02 WIB

Sekolah Terluar Terbantu Internet Gratis Pemerintah, Tapi…

13 June 2026 - 14:28 WIB

Tak Mau AI Lepas Kendali, Pemerintah Pastikan Perpres AI Terbit Tahun Ini

12 June 2026 - 19:31 WIB

Trending on Kabar Dunia