Muslimah Berhijab Ini Tantang Putin di Pilpres Rusia 2018

NAMANYA terbilang asing dalam kandidat pemilu Rusia 2018. Media lokal pun belum ada yang memberitakan mengenai sosoknya. Namun muslimah ini masuk dalam daftar calon presiden Rusia 2018. Ia maju ‘menantang’ Vladimir Putin yang juga mencalonkan kembali.

Aina Gamzatova, seorang Muslimah berusia 46 tahun dari Dagestan, mengumumkan bahwa dia resmi terjun ke dalam pemilu Rusia pada Maret 2018,  sebagai calon presiden. Lalu, siapa sebenarnya sosok Gamzatova?

GamzatovaMengutip Al Jazeera, Senin (1/1/2018), Gamzatova merupakan pemimpin Islam.ru, sebuah media Muslim terbesar di Rusia yang terdiri dari televisi, radio dan gerai cetak. Gamzatova juga diketahui sering menulis buku tentang Islam dan melakukan kegiatan amal.

Gamzatova menikah dua kali. Suami pertamanya merupakan pemimpin Muslim, Said Muhammad Abubakarov, yang meninggal karena dibunuh dalam sebuah ledakan mobil pada tahun 1998. Hingga kini, pelakunya belum ditemukan.

Namun dia secara terbuka mengecam Wahabi, istilah yang sering digunakan Gamzatova untuk menggambarkan militan yang ingin dia lumpuhkan.

Dalam buku dan beberapa pidatonya, Gamzatova menyebut wahabi sebagai kaum yang haus darah dan bermuka dua. Mereka terus menerus mengincar tokoh-tokoh Sufi di Dagestan — dan afiliasinya — untuk dibunuh.

Kini, ia telah menikah kembali dengan Akhmad Abdulaev, seorang Mufti Dagestan, meski Gamzatova sendiri merupakan seorang Sufi.

Pencalonan Gamzatova menjadi topik hangat di kalangan komunitas Muslim Rusia. Beberapa orang mengatakan bahwa dia seharusnya tidak melangkah keluar dari bayangan kelam masa lalunya. Meski demikian, banyak juga yang mendukung tekadnya.

“Dia cukup berani untuk menggunakan hak hukumnya, yang diberikan kepada setiap warga negara Rusia, mencalonkan diri sebagai presiden. Dia cukup berani untuk menjalankan sebuah kampanye pemilu yang layak,” kata Aisha Anastasiya Korchagina, seorang etnis Rusia yang masuk Islam dan bekerja sebagai psikolog di Moskow.

Beberapa orang melihat kampanye Gamzatova sebagai cara untuk meningkatkan citra wanita Muslim di Rusia. Terlebih, kampanye itu dianggap sebagai penarik perhatian karena Dagestan dikenal miskin, berpenduduk padat dan multi-etnis.

Bahkan jika dia kalah, orang akan tahu bahwa seorang gadis berjilbab tak hanya berperan sebagai seorang ibu atau wanita saja, tapi dia juga bisa berpendidikan, menjadi bijaksana dan dihormati,” ungkap mantan juara Olimpiade tinju dan wakil menteri olahraga Dagestan, Gaidarbek Gaidarbekov melalui akun Instagram-nya.

Gamzatova banyak menerima kritik pedas terkait pencalonannya. Banyak yang memprediksi bahwa dia tidak akan bisa merebut kursi kepresidenan dari Vladimir Putin, sekalipun 20 juta Muslim Rusia memilihnya.

“Tentu saja, dia tidak akan menjadi presiden. Bukanlah hal penting untuk membicarakannya,” tulis Zakir Magomedov, seorang blogger terkenal dari Dagestan.

Tapi, dia mungkin akan mengantongi banyak suara di Dagestan dan Kaukasus Utara.

“Dia pasti akan mendapatkan suara mayoritas dan Putin tidak akan mendapatkan suara sebanyak 146 persen dari republik ini,” tulis Magomedov, mengacu pada sebuah lelucon di kalangan Kremlin tentang persentase loyalitas Putin.

Pakar lain mengatakan bahwa pencalonan Gamzatova mendiversifikasi kumpulan calon presiden yang kebanyakan laki-laki.

“Semakin beragam kandidatnya, terutama ada wanita, semakin baik. Terlebih dia adalah Muslim, kenapa tidak?” ujar pengamat Kaukasus Utara dan direktur Pusat Analisis dan Pencegahan Konflik Ekaterina Sokirianskaia.***

Sumber : Liputan6.com

print

You may also like...