Menu

Dark Mode
Asal Muasal Gelombang Raksasa Lebih dari 20 Meter Terungkap Mengenal Subduksi yang Dikaitkan dengan Gempa Megathrust Bongkahan Meteorit 2,8 Ton Diselundupkan dari Rusia, Kok Bisa? Perang Lawan Penipuan Digital, Tri Kini Bisa Blokir Scam WhatsApp Call Perkuat Fondasi Bisnis, PGN Tingkatkan Kompetensi SDM Pemda se-Jabar Bahas Implementasi Satu Data Indonesia

Headline

Mengenal Kobra di Wisma Atlet Kemayoran

badge-check


					Mengenal Kobra di Wisma Atlet Kemayoran Perbesar

Kobra. Nama yang selalu melekat dengan reptilia. Hewan melata yang sangat berbisa dan mematikan mangsanya.

Namun, Kobra ini merupakan julukan bagi anggota medis yang selalu menangani pasien Covid-19 atau Corona di RS Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Nama Letkol Laut (K) drg Muhammad Arifin kerap terdengar di lorong-lorong hingga ruangan para pasien RS Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran.

Pasalnya, Komandan Batalyon Kesehatan 1 Korps Marinir ini menjadi komandan lapangan di rumah sakit itu. Ia lebih dikenal dengan sebutan Komandan Kobra. Arifin memilih sendiri nama kobra bagi tim kesehatan di Wisma Atlet.

Menurutnya, kobra merujuk pada gambar ular di lambang kesehatan universal yang berarti pengobatan dan penyembuhan. Harapannya, tim bisa menyembuhkan para pasien yang terkena Covid19.

Sebutan kobra ini juga sebagai simbol untuk memberikan semangat karena kobra adalah ular yang gesit, pandangannya tajam dan gerakannya cepat. “Di sini nggak ada yang lambat. Semua harus cepat. Terima pasien, atasi keluhan, semua harus cepat,” katanya.

Pamen Korps Marinir ini selalu membuat berbagai semboyan untuk jadi penyemangat. Alasannya, tim yang terdiri dari relawan, sipil, dan militer itu memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Mereka harus dibangun untuk punya semangat sebagai satu tim.

Semangat itu lantas mesti ditularkan kepada para pasien. Ia yakin semangat yang tinggi akan meningkatkan imunitas.

“Jadi semangat itu harus kita tularkan. Makanya saya bikin semboyan di mana-mana di Wisma Atlet, Pantang Pulang Sebelum Korona Tumbang,” tegasnya, Kamis (20/10/2020).

Arifin terus berada di garis depan mulai dari kedatangan 245 warga negara Indonesia dari Wuhan, China di Natuna awal Februari 2020 lalu. Ia juga bertugas ketika kru Kapal Pesiar World Dream diobservasi di KRI dr Suharso yang berlayar tidak jauh dari Pulau Bintan.

Jejak Arifin hadir juga di karantina di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu saat 69 kru Kapal Diamond Princess dikarantina. Tidak heran, ketika pemerintah mengubah Wisma Atlet Kemayoran menjadi RS Darurat Covid-19, sejak 23 Maret 2020, Arifin diberi kepercayaan untuk menjadi komandan lapangan.

Semangat

HT dan telepon genggamnya tidak pernah berhenti berbunyi. Ia harus segera berpindah dari menara satu ke menara yang lain di Kompleks Wisma Atlet.
Pasien dan para tenaga kesehatan sering melihat Arifin mondar-mandir di wilayah seluas 10 hektar ini dengan sepeda kuningnya.

Berbulan-bulan menangani Covid19, Arifin mengatakan ia tahu protokol harus ditegakkan tetapi juga jangan sampai ada ketakutan berlebihan. Arifin mengakui dirinya sangat takut ketika awal-awal menangani anak buah kapal yang diisolasi karena diduga terkontaminasi Covid19.

Apalagi, saat ia harus menyambut para anak buah Kapal Diamond Princess dari Jepang yang saat itu dianggap sangat menularkan virus korona penyebab Covid-19.

Waktu itu, ia mengenakan baju militer untuk mengatasi senjata nuklir, biologis dan kimia (nubika) yang tertutup dari kepala sampai kaki. “Saya ya tidak ujug-ujug seperti sekarang ini. Saya manusia juga terbentuk dari pembuluh darah, bukan kawat,” kenangnya.

Ditanya tentang tugasnya sehari-hari, Arifin bercerita panjang lebar, tugasnya mulai dari komandan yang mengurus rumput, got mampet, layanan konsumen, hingga menjadi internal dan eksternal. Beberapa kali ia juga harus menghadapi berita hoaks.

Bahkan dia kerap menjadi psikolog dan terutama motivator bagi para pasien. Ia berusaha untuk bertemu dengan kelompok-kelompok pasien yang masuk ke Wisma Atlet.

Dengan sengaja, ia “hanya” mengenakan masker N95 rangkap dengan masker medis, face shield atau kacamata, dan seragam lapangan TNI.

Ia sudah memperkirakan, pertemuan di ruang terbuka dengan komunikasi satu arah.
“Pasien itu biasanya drop begitu tahu dia positif. Kalau saya bertemu mereka yang baru masuk rumah sakit dengan APD lengkap, apa nggak tambah drop dia,” kata Arifin.

Ia berusaha menepiskan kesan bahwa RSDC Wisma Atlet itu horor.

Di Wisma Atlet, pasien bisa merasakan tinggal di apartemen, dapat makan dan vitamin serta teman-teman baru. Sore hari ada lokasi khusus untuk berfoto. Tiap pagi sore pasien bisa ramai di daerah terbuka antar menara, walau tetap berjarak.

Ia memberlakukan protokol kalau jalan harus searah serta kelompok yang baru datang jangan bercampur dengan kelompok yang sudah lama agar tidak menularkan. “Semua disampaikan dengan guyon-guyon dan semangat petarung,” katanya.

Semangat pasien sangat ia jaga. Oleh karena itu, Arifin harus punya energi menghadapi pasien dan keluarga yang beraneka ragam pikiran dan tindakannya.

Ada istri pasien yang terus menerus mengirimkan pesan singkat, menanyakan kapan suaminya bisa pulang. Maklum, suaminya adalah tulang punggung keluarga.

Ibu ini bahkan sempat mengatakan, ia bersedia membayar agar hasil tes swab suaminya bisa negatif.
“Saya katakan, Ibu itu tidak tahu kalau disayang. Kalau suami ibu masih positif terus nularin ibu dan anak gimana ? Ibu jangan teror suami tiap hari. Malah tambah sakit dia,” kata Arifin menirukan kalimatnya pada si ibu.

Arifin mengatakan, menjadi komandan lapangan ia harus berani berpikir out of the box. Ada ibu yang lain diisolasi di sebuah apartemen mewah menangis saat menelepon Arifin karena ia dipisahkan dengan anaknya yang juga positif tapi diisolasi di rumah.

Arifin lalu menawarkan isolasi bersama ibu dan anak itu di RSDC Wisma Atlet.
Ada anak buah kapal yang mengancam agar bisa segera pulang ke keluarganya.

Tapi malah ada yang betah karena situasi RSDC Wisma Atlet yang lebih nyaman dari kontrakannya. Demikian juga pasien napi wanita yang merasa betah.

“Dia bertanya, saya kalo bisa sampai habis masa tahanan, bisa nggak pak ?” kata Arifin menirukan napi itu.

Benteng kerakhir

Menurut Arifin, RSDC Wisma Atlet hanya bisa berharap agar masyarakat semuanya bersungguh-sungguh menghadapi pandemi Covid19. Kesehatan diri harus dijaga dan protokol harus dipatuhi. Ia mencontohkan, ketika PSBB – pembatasan sosial berskala besar dilakukan, okupansi RSDC Wisma Atlet ada di bawah 50 persen.

“Kami hanya bisa terima, semakin banyak yang nggak ikut protokol, semakin banyak yang masuk ke sini,” katanya.

Saat disuruh istirahat satu bulan, Arifin malah bersedih. Pasalnya, ia harus mengingkari semboyannya sendiri, pantang pulang sebelum korona tumbang. Tapi ia sadar, istirahat itu penting untuk dia bisa bekerja lebih baik lagi.

Beberapa orang mengatakan, memang dibutuhkan orang-orang gila untuk bisa menangani RSDC seperti Arifin. Namun, baginya ungkapan itu disampaikan orang yang tidak mengerti hatinya.

“Hidup sekali, harus memberi manfaat. Saya senang di sini. Karena di sini saya bisa memberi manfaat untuk orang lain,” tandasnya.

Sumber: Kompas.com
Editor: Adi Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PPLI Dukung Program 1 Hektar Hutan Kota Pemkab Bogor

5 February 2026 - 23:26 WIB

Kepala Daerah Lalai Kelola Sampah, Pemerintah Pusat Bakal Tindak Tegas

4 February 2026 - 08:17 WIB

HPN 2026 Banten Siap Digelar, PWI Pusat dan Panitia HPN Konsolidasi

3 February 2026 - 13:01 WIB

Kepala BNN RI Dukung Penguatan Koordinasi Nasional

2 February 2026 - 09:17 WIB

Jalan Batutulis Retak, Dedie Rachim Instruksikan Tutup Jalur Sepeda Motor

30 January 2026 - 18:56 WIB

Trending on Headline