Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science menunjukkan bahwa periode kekeringan ekstrem pada abad ke-6 Masehi turut menjadi faktor penting yang membuka jalan bagi lahirnya Islam dan dominasi agama ini di Jazirah Arab.
Studi yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Basel serta kolaborator internasional lain, menggabungkan bukti paleoklimatologi, sejarah, dan arkeologi untuk memahami perubahan besar di wilayah tersebut pada masa lalu.

Rekonstruksi Iklim dari Gua Oman
Tim peneliti menganalisis lapisan stalagmit di Al Hoota Cave (Oman) yang merekam jumlah curah hujan di masa lampau. Pertumbuhan stalagmit dipengaruhi oleh jumlah tetesan air. Semakin sedikit hujan, semakin lambat stalagmit tumbuh. Analisis isotop pada lapisan-lapisan ini menunjukkan adanya periode kekeringan panjang yang sangat parah yang diperkirakan terjadi antara sekitar tahun 500 sampai 530 Masehi.
“Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit bahwa pasti ada periode sangat kering yang berlangsung beberapa dekade,” kata Profesor Dominik Fleitmann, pakar ilmu lingkungan di University of Basel, Swiss, yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari ZME Science.
Kekeringan berkepanjangan ini tidak hanya mengurangi curah hujan, tetapi juga melemahkan sistem pertanian dan irigasi kompleks yang menjadi tulang punggung Kerajaan Himyar di Yaman. Tanpa sumber daya air dan tenaga kerja yang memadai untuk memelihara sistem irigasi, sistem sosial dan ekonomi kerajaan itu semakin tertekan.
Kejatuhan Himyar
Kerajaan Himyar, juga disebut Kerajaan Homerit oleh orang-orang Yunani dan Romawi, adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Yaman pada zaman kuno. Menjadi salah satu kekuatan politik utama di Jazirah Arab selatan sebelum abad ke-6 Masehi, Kerajaan Himyar dikenal karena teras-terasan pertanian dan jaringan irigasinya yang maju.
Namun, sepanjang abad ke-6, wilayah ini mengalami kombinasi faktor yang mengguncang stabilitas, termasuk konflik internasional, tekanan dari kerajaan tetangga seperti Aksum (Ethiopia), serta kekeringan ekstrem yang melemahkan basis ekonomi Himyar.
Profesor John Haldon, sejarawan emeritus dari Princeton University, di New Jersey, Amerika Serikat, yang juga terlibat dalam studi ini, menekankan bahwa kekeringan turut melemahkan struktur politik dan ekonomi kerajaan tersebut.
“Kita beranggapan kekeringan ini akan melemahkan infrastruktur ekonomi, dan karena itu infrastruktur politik Himyar, pada akhirnya turut pula membuka kerentanan terhadap tekanan asing,” kata Haldon.
Walaupun penelitian tidak menunjukkan bahwa kekeringan adalah penyebab tunggal kemunculan Islam, studi ini menegaskan bahwa kondisi tersebut menciptakan lanskap sosial dan politik yang penuh gejolak.
Kekosongan kekuasaan serta disintegrasi struktur kerajaan besar memberi ruang bagi perubahan baru dalam tatanan agama dan masyarakat di Jazirah Arab, termasuk kelahiran dan penyebaran Islam pada abad ke-7 Masehi.
Setidaknya, penelitian ini menggambarkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga dapat berdampak besar pada sejarah manusia. Peristiwa kekeringan ekstrem di abad ke-6 menjadi salah satu elemen kunci dalam rangkaian peristiwa yang kemudian membantu Islam tumbuh dan berkembang di kawasan ini. Interaksi antara faktor alam, politik, dan sosial menciptakan kondisi yang memungkinkan lahirnya transformasi besar dalam sejarah agama dan peradaban di Jazirah Arab.
Sumber: detik.com













