Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, salah satu satelit internet Starlink milik SpaceX hampir ditabrak satelit China. Untuk mencegah insiden itu terulang, SpaceX akan menurunkan posisi ribuan satelit Starlink di orbit.
VP of Starlink Engineering Michael Nicolls mengatakan semua satelit yang awalnya mengorbit di ketinggian sekitar 550 km akan diturunkan ke ketinggian sekitar 480 km. Penurunan ini ditujukan untuk mengurangi risiko tabrakan, dengan menempatkan satelit Starlink di wilayah yang tidak terlalu padat dan memungkinkan satelit keluar dari orbit lebih cepat jika terjadi insiden.

Nah, China justru merasa korban Starlink. Pihak China menyuarakan kekhawatiran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait pesatnya pertumbuhan satelit internet komersial di orbit rendah Bumi. Beijing memperingatkan tren ini menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan, keamanan, dan aspek hukum.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan informal Dewan Keamanan PBB yang diprakarsai Rusia. Perwakilan China menyatakan ekspansi cepat jaringan satelit komersial, terutama yang dioperasikan satu negara tertentu, melampaui kemampuan regulasi internasional yang ada.
“Beberapa tahun terakhir, umat manusia mencapai kemajuan baru dalam eksplorasi dan penggunaan luar angkasa. Di saat yang sama, perlu dicatat bahwa dengan pesatnya ekspansi aktivitas ruang angkasa komersial, proliferasi konstelasi satelit komersial yang tak terkendali oleh negara tertentu, tanpa adanya regulasi efektif, telah memicu tantangan keselamatan dan keamanan yang nyata,” ujarnya.
Pernyataan tersebut secara langsung merujuk pada jaringan Starlink milik SpaceX, yang saat ini memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit. Sistem ini dirancang untuk terus berkembang hingga lebih dari 42.000 satelit, di mana masing-masing satelit akan beroperasi selama sekitar lima tahun sebelum diturunkan dari orbit untuk dibakar di atmosfer.
Risiko Tabrakan dan Sampah Antariksa
China menunjuk insiden spesifik yang melibatkan satelit Starlink. Ada peristiwa tahun 2021 ketika wahana antariksa Starlink terbang terlalu dekat dengan stasiun luar angkasa China, memaksa astronaut melakukan manuver penghindaran.
Baru-baru ini, insiden lain menambah kecemasan Beijing. “Baru-baru ini pada 17 Desember, satu satelit Starlink hancur di orbit dan menghasilkan lebih dari seratus fragmen puing,” papar perwakilan tersebut.
Meningkatnya sampah antariksa disebut sangat berbahaya, terutama bagi wahana antariksa milik negara dengan kemampuan pelacakan dan manuver terbatas. “Bagi wahana antariksa yang dioperasikan negara berkembang yang kurang kemampuan kontrol orbit, kesadaran situasional ruang angkasa, atau waktu reaksi yang cukup, ini jelas risiko besar,” kata mereka.
Di luar keselamatan fisik, China memperingatkan meningkatnya penggunaan militer pada satelit komersial mulai mengaburkan batas antara aktivitas sipil dan pertahanan. Satelit kini digunakan untuk pengintaian dan komunikasi medan perang, yang memperburuk risiko perlombaan senjata luar angkasa.
China juga menuduh operator satelit menyediakan layanan lintas batas tanpa izin dan mencampuri urusan dalam negeri di kawasan seperti Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Afrika. Menurut perwakilan tersebut, layanan Starlink digunakan teroris, kelompok separatis, dan jaringan penipuan di beberapa wilayah.
Elon Musk sebelumnya membantah Starlink digunakan pemberontak di India, dengan menyatakan bahwa pancaran satelit dimatikan di atas wilayah India. SpaceX juga menyatakan telah proaktif mengidentifikasi dan menonaktifkan lebih dari 2.500 perangkat Starlink yang terkait dengan pusat penipuan di Myanmar.
Sumber: detik.com














