Menu ✖

Dark Mode
Sumpah Pemuda ke-98, Fajar Muhammad Nur Dorong Solusi 4 Persoalan Pemuda Alasan Trump Larang Pakai ‘AI’, Perintahkan Beralih ke Penggantinya Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara Bocah Ajaib Kuliah Umur 9 Tahun, Calon Doktor Fisika di Usia 18 Tahun BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam Anggaran Film Elden Ring Melonjak, Kini Hampir Mencapai Rp 3,6 Triliun

Kabar Lifestyle

Menkomdigi Respons Ancaman Internet RI Diputus Singapura: Tak Perlu Geram

badge-check


					Menkomdigi Respons Ancaman Internet RI Diputus Singapura: Tak 
Perlu Geram (Foto: Komdigi)
Perbesar

Menkomdigi Respons Ancaman Internet RI Diputus Singapura: Tak Perlu Geram (Foto: Komdigi)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid angkat bicara terkait viralnya unggahan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang menyinggung kemungkinan pemutusan jalur internet Indonesia. Meutya meminta masyarakat tidak terpancing emosi karena kedua negara sejatinya saling bergantung dalam hal konektivitas digital.

Melalui akun Instagram pribadinya, Meutya mengingatkan bahwa sebagian besar jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura justru melintasi perairan Indonesia. Jika kabel tersebut terganggu, Singapura juga berpotensi mengalami dampak besar.

“Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia,” tulis Meutya melalui akun Instagram @meutya_hafid, Selasa (27/10/2026).

“Jika terpotong atau dipotong, 80% kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh,” sambungnya.

Meutya turut menyoroti besarnya pasar digital Indonesia yang menjadi salah satu faktor penting bagi ekosistem teknologi Singapura. Menurutnya, jumlah penduduk Indonesia mencapai 47 kali lipat dibandingkan negara tetangga tersebut.

“Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” ungkapnya.

Meski demikian, Meutya menekankan bahwa infrastruktur digital bukanlah sesuatu yang seharusnya dijadikan alat untuk saling mengancam. Keberadaan kabel laut dan jaringan internet internasional merupakan kepentingan bersama yang harus dijaga.

“Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” tegasnya.

RI Masih Bergantung pada Singapura
Pernyataan Meutya muncul setelah Calvin Cheng mengunggah infografis melalui akun X @calvinelcheng pada 25 Oktober 2026. Infografis tersebut menunjukkan bahwa sekitar 90% lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura.

Calvin hanya menyertakan satu kata dalam unggahannya, yakni “Cut?” atau “Potong?”, yang kemudian memicu reaksi warganet Indonesia.

Namun, dalam unggahan lanjutannya, Calvin menyatakan bahwa Singapura tidak akan melakukan tindakan tersebut karena menghormati hukum.

“Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini,” tulisnya.

Menariknya, angka ketergantungan 90% yang disinggung Calvin sebelumnya juga pernah diungkapkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Pada Juni 2026, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan mengakui bahwa sebagian besar trafik internet Indonesia masih bergantung pada konektivitas melalui Singapura.

“Sejujurnya, trafik kita 90% tergantung ke Singapura. Itu (seperti) Selat Hormuz di Selat Malaka, gitu ya,” ujar Denny di Jakarta kala itu.

Ketergantungan tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam memperkuat kedaulatan digital. Terlebih, kebutuhan konektivitas terus meningkat seiring perkembangan layanan komputasi awan (cloud), pusat data, hingga kecerdasan buatan (AI).

Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah berupaya mengembangkan jalur kabel bawah laut alternatif sekaligus memperkuat jaringan kabel darat di Indonesia.

“Kami mencoba menyelaraskan peta jalan pusat data, kabel laut, dan kabel darat-semuanya pada frekuensi yang sama,” jelas Denny.

Adapun polemik unggahan Calvin bermula dari kebijakan Indonesia mengurangi ekspor gas ke Singapura. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menjelaskan bahwa pengurangan pasokan dilakukan karena pemeliharaan fasilitas serta meningkatnya kebutuhan gas dalam negeri, bukan akibat konflik dengan Singapura.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Alasan Trump Larang Pakai ‘AI’, Perintahkan Beralih ke Penggantinya

28 October 2026 - 12:47 WIB

Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara

28 October 2026 - 12:42 WIB

BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam

28 October 2026 - 12:32 WIB

Anggaran Film Elden Ring Melonjak, Kini Hampir Mencapai Rp 3,6 Triliun

28 October 2026 - 12:29 WIB

NASA Tampilkan Kawah Mirip Laba-laba Raksasa di Australia

28 October 2026 - 12:20 WIB

Trending on Kabar Lifestyle