Menu ✖

Dark Mode
Horor Antrean iPhone 18 Pro, Warga Tunggu Semalaman Hingga Rusuh Rahasia Besar OpenAI Bocor Gara-Gara Karyawan Resign ke Apple Netflix Mau PHK 1.000 Karyawan, Ternyata Ini Penyebabnya Ditangkap, Mata-Mata Pencipta ChatGPT Mau Kabur ke Arab Saudi China Siap Mengubah Dunia-Tendang Amerika, Begini Taktik Xi Jinping Sosok Legendaris Cover MP3 Berpulang, ‘Generasi Warnet’ Ikut Berduka

Kabar Lifestyle

Merah Pekat! Satelit NASA Pantau Sebaran Karbon Monoksida di Langit Indonesia

badge-check


					Merah Pekat! Satelit NASA Pantau Sebaran Karbon Monoksida di 
Langit Indonesia (Foto: NASA Eyes on the Earth)
Perbesar

Merah Pekat! Satelit NASA Pantau Sebaran Karbon Monoksida di Langit Indonesia (Foto: NASA Eyes on the Earth)

Pantauan satelit NASA memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer yang mencakup wilayah Indonesia dan sebagian Asia Tenggara. Dalam visualisasi Eyes on the Earth, konsentrasi gas tersebut tampak ditandai dengan warna merah tua hingga oranye pada peta yang diamati selama 13-15 Oktober 2026.

Peta dari NASA tersebut menampilkan data karbon monoksida harian pada ketinggian sekitar 500 milibar (mb) di atmosfer. Area berwarna merah tua terlihat membentang di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan kawasan sekitarnya.

Sementara itu, wilayah di bagian utara dan selatan tampak didominasi warna kuning, hijau, dan biru. Perbedaan warna tersebut menunjukkan variasi konsentrasi karbon monoksida yang terdeteksi pada lapisan atmosfer yang divisualisasikan.

Karbon monoksida merupakan gas yang dapat terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan yang mengandung karbon. Sumbernya antara lain kebakaran hutan dan lahan, pembakaran biomassa, serta aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil.

Dalam kondisi tertentu, karbon monoksida dari kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar jauh dari lokasi sumbernya. Karena itu, pengamatan satelit berguna untuk membantu ilmuwan mempelajari persebaran gas di atmosfer dalam cakupan wilayah yang luas.

Meski demikian, peta tersebut tidak serta-merta menunjukkan lokasi kebakaran secara langsung. Konsentrasi karbon monoksida yang tinggi dapat berkaitan dengan berbagai sumber emisi dan dipengaruhi pergerakan massa udara. Untuk mengetahui penyebab kemunculannya di suatu wilayah, data satelit perlu dibandingkan dengan informasi kebakaran, kondisi angin, serta pengamatan atmosfer lainnya.

Penting pula untuk membedakan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer atas dengan kualitas udara yang dihirup masyarakat di permukaan. Visualisasi pada ketinggian 500 mb tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan tingkat paparan karbon monoksida di permukiman atau risiko kesehatan penduduk.

Melalui Eyes on the Earth, NASA menyediakan visualisasi data pengamatan Bumi yang membantu publik melihat berbagai fenomena atmosfer dan lingkungan dalam skala regional maupun global. Data seperti ini dapat menjadi salah satu petunjuk untuk menelusuri pergerakan polutan, termasuk karbon monoksida, tetapi tetap memerlukan konteks dari pengamatan lain.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Horor Antrean iPhone 18 Pro, Warga Tunggu Semalaman Hingga Rusuh

16 October 2026 - 19:13 WIB

Rahasia Besar OpenAI Bocor Gara-Gara Karyawan Resign ke Apple

16 October 2026 - 19:09 WIB

Netflix Mau PHK 1.000 Karyawan, Ternyata Ini Penyebabnya

16 October 2026 - 19:05 WIB

Ditangkap, Mata-Mata Pencipta ChatGPT Mau Kabur ke Arab Saudi

16 October 2026 - 19:03 WIB

China Siap Mengubah Dunia-Tendang Amerika, Begini Taktik Xi Jinping

16 October 2026 - 18:58 WIB

Trending on Kabar Lifestyle