Jogjakarta- Perjalanan membanggakan ditorehkan startup pangan olahan asal Kulon Progo, KhumKhum. Produk Jamur Crispy besutan CV Khaira Buana Mas ini resmi terpilih mengikuti program Product Placement Pilihan Busan (PPPB) yang digagas oleh Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso.
Program PPPB sendiri merupakan inisiatif promosi berkala yang diluncurkan pada 12 Agustus 2026 guna memberikan ruang khusus bagi produk-produk UMKM pilihan hasil kurasi ketat Kementerian Perdagangan.

Di bawah binaan Innovative Academy Universitas Gadjah Mada (UGM), KhumKhum tidak hanya menawarkan camilan bernilai gizi tinggi berbahan dasar jamur tiram, tetapi juga konsisten membangun rantai pasok inklusif. Mereka menggandeng petani jamur tiram lokal sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Founder dan CEO KhumKhum, Hanum Wahyu Wibisono, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas capaian ini. Menurutnya, terpilihnya KhumKhum dalam program PPPB menjadi motivasi tersendiri bagi tim untuk terus menjaga kualitas dan menggenjot kesiapan bisnis.
Menurutnya, kolaborasi multidisiplin ini memperkuat fondasi perusahaan, mulai dari pengembangan teknologi bisnis, strategi pemasaran digital, hingga inovasi produk pangan.
“Pengakuan ini menjadi penyemangat sekaligus amanah bagi kami untuk terus memperbaiki kualitas dan membawa produk lokal melangkah lebih jauh,” ujar Hanum, Selasa (6/10/2026).
Di balik kesuksesan tersebut, KhumKhum digawangi anak-anak muda berlatar belakang lintas disiplin ilmu dari UGM. Tim ini terdiri dari Hanum Wahyu Wibisono (CEO), Endang Susylowati sebagai Chief Technology Officer (CTO) dari Program Studi Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi, Najihatul Mujahidah sebagai Chief Marketing Officer (CMO) dari Teknologi Industri Pertanian (FTP), serta Fatma Nurul Hida sebagai Chief Product Officer (CPO) dari Program Studi Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi.
Penguatan Lewat Inkubasi Bisnis UGM
Sebelum menembus pasar nasional, KhumKhum mendapatkan pendampingan intensif melalui inkubasi bisnis di Innovative Academy UGM yang berada di bawah ekosistem Direktorat Pengembangan Usaha UGM. Mereka juga menerima dukungan pendanaan melalui program Startup Grant dari kerangka Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP) di UGM Science Techno Park.
Hanum menjelaskan, pendampingan yang diterima mencakup berbagai aspek penting seperti mentoring, workshop, evaluasi berkala, penguatan strategi bisnis, hingga perluasan jejaring pemasaran.
“Proses pengembangan bisnis yang dijalani KhumKhum menjadi bagian dari perjalanan untuk terus meningkatkan kualitas produk dan kesiapan usaha,” tegasnya.
Sementara itu, Head of Program Innovative Academy UGM, Denny Wijayanto, mengapresiasi pencapaian gemilang yang diraih oleh startup binaannya. Ia menilai, keberhasilan KhumKhum membuktikan bahwa inkubasi yang terarah mampu menciptakan dampak nyata bagi pertumbuhan bisnis maupun ekonomi kerakyatan.
“Capaian KhumKhum ini menjadi salah satu indikator bahwa proses inkubasi dan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membuka akses dan kesempatan baru bagi startup,” kata Denny.
Denny menambahkan, pertumbuhan sebuah startup tidak hanya diukur dari naiknya angka penjualan, melainkan juga seberapa besar kontribusinya terhadap ekosistem lokal. Dalam hal ini, KhumKhum dinilai berhasil memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal serta melibatkan langsung petani dan masyarakat dalam rantai bisnisnya.
Ia menilai, keikutsertaan KhumKhum dalam program PPPB diharapkan mampu membuka jalan bagi produk-produk berbasis komoditas lokal lainnya untuk unjuk gigi, mendapatkan eksposur lebih luas, serta menembus kancah pasar global yang lebih kompetitif.
“Kami berharap pencapaian ini menjadi momentum bagi KhumKhum untuk terus meningkatkan standar produk, memperluas pasar, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,” tuturnya.
Diketahui saat ini, produk Jamur Crispy KhumKhum telah didistribusikan secara luas melalui berbagai toko oleh-oleh serta jaringan ritel modern yang mencakup lebih dari 1.500 titik pemasaran di delapan provinsi. Perluasan pasar ini diiringi dengan peningkatan kapasitas produksi, perbaikan manajemen, serta persiapan standar keamanan pangan yang lebih tinggi. k-ollf














