Menu ✖

Dark Mode
Kader PKK Kota Bogor Dilatih Tanggap dan Tangguh Bencana LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027 Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

Kabar Lifestyle

NASA Mau Tenggelamkan ISS, Ilmuwan Khawatir Laut Tercemar

badge-check


					NASA Mau Tenggelamkan ISS, Ilmuwan Khawatir Laut Tercemar (Foto: NASA)
Perbesar

NASA Mau Tenggelamkan ISS, Ilmuwan Khawatir Laut Tercemar (Foto: NASA)

NASA berencana mengakhiri masa operasional International Space Station (ISS) atau Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2031 dengan menjatuhkannya secara terkendali ke kawasan terpencil di Samudra Pasifik Selatan. Strategi ini selama bertahun-tahun dianggap sebagai cara paling aman untuk menghindari risiko puing-puing stasiun luar angkasa menghantam wilayah berpenduduk.

Namun, rencana tersebut kini menuai kritik dari para ahli kelautan dan pemerhati lingkungan. Mereka mempertanyakan dampak puing-puing ISS terhadap ekosistem laut serta menilai kajian lingkungan yang dilakukan sejauh ini masih belum memadai.

ISS memiliki massa sekitar 420 ton, menjadikannya objek terbesar yang pernah direncanakan untuk dijatuhkan kembali ke Bumi secara terkendali. NASA akan menggunakan wahana khusus U.S. Deorbit Vehicle (USDV) yang dikembangkan bersama SpaceX untuk mengarahkan ISS memasuki atmosfer. Sebagian besar struktur diperkirakan akan terbakar akibat gesekan dengan atmosfer, sementara sisa puing yang bertahan diarahkan jatuh ke kawasan terpencil yang dikenal sebagai Point Nemo, atau ‘kuburan wahana antariksa’.

Selama puluhan tahun, Point Nemo dipilih sebagai lokasi pembuangan berbagai satelit dan stasiun luar angkasa karena letaknya sangat jauh dari daratan maupun jalur pelayaran. Dari sisi keselamatan manusia, pilihan ini memang masuk akal. Risiko puing menghantam permukiman menjadi sangat kecil dibandingkan jika benda sebesar ISS dibiarkan jatuh secara acak.

Namun, menurut para ahli, pendekatan tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik bagi lingkungan laut. Mereka menilai masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai material apa saja yang akan bertahan saat memasuki atmosfer dan bagaimana dampaknya terhadap dasar laut maupun ekosistem di sekitarnya.

“Rencana ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan laut, dan menurut kami komunitas antariksa belum benar-benar bergulat dengan persoalan tersebut,” ujar Presiden The Ocean Foundation, Mark Spalding, seperti dikutip dari Space.com.

Ia juga menyoroti adanya kekosongan regulasi internasional. Menurutnya, jika puing antariksa jatuh di wilayah suatu negara, negara peluncur memiliki kewajiban memberikan kompensasi. Namun perlindungan serupa belum berlaku untuk kawasan laut lepas.

“Tidak ada perlindungan hukum yang setara bagi lautan,” katanya.

Karena itu, The Ocean Foundation meminta adanya peninjauan ulang terhadap rencana tersebut, termasuk kajian dampak lingkungan yang lebih transparan sebelum proses deorbit dilakukan.

Di sisi lain, NASA menilai deorbit terkendali tetap menjadi pilihan paling aman dibandingkan membiarkan ISS jatuh tanpa kendali atau mempertahankannya tetap berada di orbit.

Sebelumnya, berbagai opsi sempat dipertimbangkan, termasuk menaikkan orbit ISS agar tetap bertahan lebih lama. Namun langkah tersebut dinilai membutuhkan biaya sangat besar dan hanya menunda masalah di masa depan. Sementara itu, membiarkan ISS memasuki atmosfer secara alami dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap keselamatan manusia.

Meski demikian, sejumlah pihak berharap momen pensiunnya ISS dapat menjadi titik awal penyusunan aturan internasional yang lebih jelas mengenai pembuangan infrastruktur antariksa berskala besar.

Pasalnya, seiring meningkatnya aktivitas antariksa dan rencana pembangunan stasiun luar angkasa komersial di masa depan, persoalan bagaimana mengakhiri masa operasional wahana-wahana tersebut diperkirakan akan semakin sering muncul. Bagi para peneliti, pertanyaannya kini bukan hanya bagaimana menjaga keselamatan manusia di Bumi, tetapi juga bagaimana memastikan lautan tidak menjadi tempat pembuangan terakhir bagi era eksplorasi antariksa.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking

10 October 2026 - 15:17 WIB

Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027

10 October 2026 - 12:01 WIB

Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara

10 October 2026 - 11:52 WIB

AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

10 October 2026 - 11:47 WIB

Sony Siapkan Perangkat Baru yang Misterius: PlayStation Portal OLED?

10 October 2026 - 11:39 WIB

Trending on Kabar Lifestyle