Menu ✖

Dark Mode
Jadi Venue Porprov, Kelurahan Cilendek Timur Berbenah Sumpah Pemuda ke-98, Fajar Muhammad Nur Dorong Solusi 4 Persoalan Pemuda Alasan Trump Larang Pakai ‘AI’, Perintahkan Beralih ke Penggantinya Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara Bocah Ajaib Kuliah Umur 9 Tahun, Calon Doktor Fisika di Usia 18 Tahun BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam

Kabar Lifestyle

Kasus Eks Artis Fabiola, Penipuan Online Tak Kenal Batas Negara

badge-check


					Mantan artis Fabiola Elizabeth jadi tersangka scammer internasional 
dengan korban warga AS (Foto: Dok. Polda Jateng)
Perbesar

Mantan artis Fabiola Elizabeth jadi tersangka scammer internasional dengan korban warga AS (Foto: Dok. Polda Jateng)

Mantan artis Fabiola Elizabeth jadi tersangka kasus scammer internasional dengan korban di Amerika Serikat. Penipuan online tidak kenal batas negara.

“Ini memang akarnya kejahatan berbasis internet. Internet menghilangkan sekat geografis dan pada dasarnya internet itu sebenarnya bersifat anonim atau sulit diidentifikasi,” kata pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya kepada Detik, Kamis (4/6/2026).

Menurut Alfons, komplotan penipu terorganisir cenderung akan menghindari melakukan penipuan dari yurisdiksi negara korbannya. Jadi kalau mau menipu orang Indonesia lakukan dari Kamboja, menipu orang Amerika, Vietnam, China atau Eropa lakukan dari Indonesia.

“Memang itu pola dan strateginya supaya lebih sulit dideteksi. Penegak hukum atau masyarakat di sekitar penipu akan lebih sulit mengidentifikasi atau secara hukum juga konsekuensinya lebih rendah dibandingkan dilakukan di negara korban yang bersangkutan,” jelasnya.

Untuk melakukan penipuan ini, modalnya harus ada yang bisa berbahasa seperti korban. Itu sebabnya banyak orang Indonesia direkrut di Kamboja untuk untuk menipu orang Indonesia yang lain.

“Atau sebaliknya rekrut orang Vietnam atau China dan pekerjakan di Indonesia di kasus Hayam Wuruk untuk menipu orang China atau Vietnam,” kata Alfons.

Tantangan dari sisi aparat hukum kata Alfons adalah birokrasi lebih panjang karena yuridksi lintas negara. Tapi bukan artinya tidak bisa dilakukan. Pertukaran informasi lewat interpol bisa menjadi salah satu caranya.

“Jadi kalau yang keluar negeri, ya harus bekerjasama dengan lembaga terkait di luar negeri khususnya interpol atau badang terkait seperti imigrasi dan kementerian luar negeri,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Alasan Trump Larang Pakai ‘AI’, Perintahkan Beralih ke Penggantinya

28 October 2026 - 12:47 WIB

Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara

28 October 2026 - 12:42 WIB

BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam

28 October 2026 - 12:32 WIB

Anggaran Film Elden Ring Melonjak, Kini Hampir Mencapai Rp 3,6 Triliun

28 October 2026 - 12:29 WIB

Menkomdigi Respons Ancaman Internet RI Diputus Singapura: Tak Perlu Geram

28 October 2026 - 12:24 WIB

Trending on Kabar Lifestyle