Menu

Dark Mode
Sony Hentikan Penjualan Kartu Memori Karena Krisis Global Tips Agar Tak Halu karena Interaksi Berlebihan dengan Chatbot AI Sudah Baikan, Zuckerberg Tawarkan Bantuan ke Elon Musk dan DOGE Apple Makin Serius Mau Produksi iPhone di Amerika Pesawat Canggih ‘Otak’ Perang Amerika Hancur Dihantam Rudal Iran Resmi ASN Kabupaten Bogor Setiap Jumat WFH

Kabar Lifestyle

Pesawat Canggih ‘Otak’ Perang Amerika Hancur Dihantam Rudal Iran

badge-check


					Pesawat Canggih 'Otak' Perang Amerika Hancur Dihantam Rudal Iran (Foto: Wikipedia) Perbesar

Pesawat Canggih 'Otak' Perang Amerika Hancur Dihantam Rudal Iran (Foto: Wikipedia)

Sebuah pesawat komando dan kendali canggih yaitu E-3 Sentry AWACS (airborne early warning and control) milik Angkatan Udara Amerika Serikat, dilaporkan termasuk di antara pesawat yang rusak dalam serangan rudal dan drone Iran pada 27 Maret di Pangkalan Udara Prince Sultan Air Base, Arab Saudi.
Serangan yang dilaporkan sejumlah media termasuk Bloomberg dan Wall Street Journal itu melukai lebih dari 10 anggota militer, dua di antaranya luka parah. Saat serangan berlangsung, tiga pesawat tanker pengisian bahan bakar udara KC-135 dan setidaknya satu pesawat E-3 Sentry AWACS disebut rusak parah.

Insiden ini menandai pertama kalinya model E-3 hancur dalam pertempuran. Foto-foto E-3 Sentry AWACS dengan bagian ekor terputus dan tidak dapat terbang lagi telah menyebar luas di platform media sosial seperti X, meskipun keasliannya masih belum terverifikasi.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak mengomentari insiden ini. Air & Space Forces Magazine yang dikutip detikINET, meninjau gambar yang menunjukkan kerusakan signifikan pada sebuah E-3 di pangkalan udara tersebut. Jika dikonfirmasi, tingkat kerusakan pada pesawat yang sudah menua tersebut kemungkinan besar membuatnya tidak dapat diperbaiki.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan, enam pesawat E-3 disiagakan di Prince Sultan Air Base sebelum insiden terjadi. Pesawat AWACS memiliki sejarah panjang dan membantu mengelola medan tempur dalam berbagai konflik besar.

AU AS menerbangkan pesawat AWACS sejak akhir 1970-an untuk kemampuan komando dan kendali, serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Pesawat ini digunakan secara ekstensif dalam Operasi Badai Gurun, perang Kosovo, perang di Irak dan Afghanistan, serta kampanye melawan ISIS.

Namun, pesawat E-3 semakin menua dan kemampuannya mulai tertinggal dari beberapa musuh utama. Armada E-3 Angkatan Udara telah menyusut jadi hanya 16 unit seiring langkah militer memensiunkan pesawat yang kurang mumpuni. Tahun fiskal 2024, E-3 punya tingkat kesiapan misi sekitar 56 persen, yang berarti hanya sedikit lebih dari setengahnya yang mampu terbang dan menjalankan misi pada waktu-waktu tertentu.

Kehilangan salah satu pesawat AWACS yang makin langka ini, terutama yang tampaknya sedang aktif digunakan dalam operasi saat ini, dapat menghambat kemampuan Angkatan Udara AS.

Boeing E-3 Sentry adalah pesawat peringatan dini dan kendali udara yang dikembangkan Boeing. Berbasis pesawat Boeing 707, pesawat ini digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, NATO, Angkatan Udara dan Antariksa Prancis, Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi, dan Angkatan Udara Chili.

E-3 memiliki kubah radar berputar (rotodome) khas di atasnya. Produksi berakhir pada tahun 1992 setelah 68 pesawat dibuat. E-3 pertama USAF dikirimkan pada Maret 1977. E-3 juga dibeli oleh NATO (18), Inggris (7), Prancis (4), dan Arab Saudi (5). Pada bulan April 2022, Angkatan Udara AS mengumumkan bahwa Boeing E-7 akan menggantikan E-3, mulai tahun 2027.

Kerugian Besar
“Kehilangan E-3 ini sangat bermasalah, mengingat betapa krusialnya untuk segala hal, mulai dari dekonfliksi ruang udara, dekonfliksi pesawat, penargetan, hingga memberikan efek mematikan lain yang dibutuhkan oleh seluruh pasukan,” kata Heather Penney, direktur di Mitchell Institute for Aerospace Studies.

Hilangnya E-3 dapat menciptakan celah serta berpotensi menyebabkan hilangnya peluang menargetkan pasukan Iran. “Ini adalah kerugian signifikan untuk peperangan dalam jangka pendek,” ujar Kelly Grieco, pakar kebijakan pertahanan di Stimson Center. Pilot tempur khususnya sangat bergantung pada gambaran ruang tempur yang disajikan AWACS.

Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper sempat menyatakan peluncuran rudal dan drone Iran telah turun lebih dari 90 persen sejak konflik dimulai. Namun, insiden terbaru ini menunjukkan Iran tetap mampu meluncurkan rudalnya, dan terus menyerang pangkalan serta target utama AS di seluruh kawasan.

Iran tampaknya memfokuskan serangan ke situs radar dan target seperti pesawat tanker dan pesawat AWACS, yang dapat melumpuhkan kemampuan Amerika dalam memproyeksikan kekuatan udara. Prince Sultan Air Base sendiri merupakan pusat militer AS krusial dan menampung berbagai pesawat pendukung operasi melawan Iran.

“Ini tentu bukan serangan acak,” kata Grieco. Dengan menargetkan radar, situs komunikasi, pesawat, dan pangkalan, Iran tampaknya mencoba melakukan kampanye udara balasan secara asimetris.

“Tampaknya ini adalah kampanye disengaja untuk memburu elemen-elemen pendukung terpenting kekuatan udara AS,” tambahnya. Pada akhirnya, pakar meyakini bahwa hilangnya pesawat AWACS ini akan memaksa segelintir armada E-3 yang tersisa untuk bekerja jauh lebih keras.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sony Hentikan Penjualan Kartu Memori Karena Krisis Global

30 March 2026 - 11:01 WIB

Tips Agar Tak Halu karena Interaksi Berlebihan dengan Chatbot AI

30 March 2026 - 10:57 WIB

Sudah Baikan, Zuckerberg Tawarkan Bantuan ke Elon Musk dan DOGE

30 March 2026 - 10:16 WIB

Apple Makin Serius Mau Produksi iPhone di Amerika

30 March 2026 - 10:11 WIB

Ini Taktik Cerdik Iran untuk Kuras Rudal Pertahanan Israel-AS

28 March 2026 - 08:35 WIB

Trending on Kabar Lifestyle