Menu

Dark Mode
Ketua DPRD Adityawarman Adil Apresiasi Sinergi TNI dalam Pembangunan Jembatan Garuda Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah Sidak Pasar Gembrong dan Jambu Dua, Komisi II DPRD Kota Bogor Soroti Kenaikan Harga dan Akses Angkot ​DPRD Kota Bogor dan Disnaker Bahas Persiapan THR, Siapkan Posko Pengaduan Terima Pemuda Al-Irsyad, Adityawarman: Salut untuk Pemuda yang Beraktualisasi di Bidang Sosial Santuni 200 Yatim dan Dhuafa, PWI Makin Nyata Bermanfaat untuk Warga

Kabar Lifestyle

Planet ‘Sultan’! Permukaan Merkurius Berlapis Berlian Setebal 17 Km

badge-check


					Planet 'Sultan'! Permukaan Merkurius Berlapis Berlian Setebal 17 Km Foto: NASA Perbesar

Planet 'Sultan'! Permukaan Merkurius Berlapis Berlian Setebal 17 Km Foto: NASA

Merkurius, planet terkecil dan terdalam di Tata Surya, mungkin menyimpan rahasia menakjubkan yang tersembunyi di balik permukaannya yang hangus, yakni lapisan berlian setebal 17 km. Kalau Merkurius manusia, dia bakal dijuluki sultan berkat kekayaan berlian yang dikandungnya.

Sebuah studi inovatif, yang dipimpin oleh pakar material planet Dr. Yanhao Lin dan dipublikasikan di Nature Communications, menunjukkan bahwa dalam kondisi ekstrem Merkurius, karbon jauh di dalam mantel planet itu dapat berubah menjadi berlian, membentuk cangkang kristal padat di sekeliling inti logamnya.

Asal Usul Kaya Karbon dan Pembentukan Berlian

Permukaan Merkurius dipenuhi dengan grafit, suatu alotrop karbon, yang menunjukkan bahwa kerak planet itu pernah mengapung di atas samudra magma yang kaya karbon. Saat samudra ini mendingin, material karbon yang lebih ringan mengapung ke atas, sementara karbon yang lebih padat tenggelam lebih dalam ke dalam planet itu.

Di bawah tekanan melebihi 5,5 GPa dan suhu mendekati 1.982°C , para peneliti menunjukkan bahwa karbon yang terendam ini dapat berubah menjadi berlian di batas inti-mantel Merkurius.

“Bertahun-tahun yang lalu, saya menyadari bahwa kandungan karbon Merkurius yang sangat tinggi mungkin memiliki implikasi yang signifikan,” kata Dr. Lin dikutip dari The Daily Galaxy.

“Hal itu membuat saya menyadari bahwa sesuatu yang istimewa mungkin terjadi di dalamnya,” ujarnya.

Percobaan tekanan tinggi yang mereka lakukan mereka juga memperhitungkan pengaruh sulfur, yang menurunkan titik leleh lautan magma Merkurius dan memfasilitasi pembentukan berlian. Dalam kondisi ini, berlian menjadi cukup stabil untuk tenggelam dan terakumulasi, membentuk cangkang unik yang dapat memanjang hingga setebal 18 km di sekitar inti.

Kunci Potensial Medan Magnet Merkurius

Tidak seperti benda-benda angkasa kecil lainnya, Merkurius masih memiliki medan magnet yang kuat, yang mengejutkan para ilmuwan mengingat ukurannya. Menurut Lin, konduktivitas termal berlian yang tinggi dapat menjelaskan misteri ini.

Saat karbon mendingin dan membentuk berlian, ia meningkatkan perpindahan panas dari inti Merkurius ke mantelnya, mempertahankan gradien termal yang diperlukan untuk memberi daya pada dinamo magnetik planet tersebut.

“Konduktivitas termal berlian yang tinggi membantu memindahkan panas secara efektif dari inti ke mantel. Itu memengaruhi konveksi di inti dan membantu mempertahankan medan magnet,” jelasnya.

Mekanisme ini menjadikan dinamika internal Merkurius unik dan mungkin memberikan wawasan mengenai medan magnet di dunia berbatu lainnya, termasuk eksoplanet.

Implikasi Bagi Ilmu Planet

Implikasi Merkurius yang kaya akan berlian jauh melampaui daya tarik estetikanya. Sementara Bumi, Venus, dan Mars telah kehilangan sebagian besar karbon permukaannya melalui proses geologis, Merkurius tampaknya telah mempertahankan dan memusatkan kandungan karbonnya, sehingga menciptakan benda angkasa yang secara kimiawi berbeda.

“Hal ini juga bisa relevan dengan pemahaman planet terestrial lainnya, terutama yang memiliki ukuran dan komposisi serupa,” imbuh Lin.

Studi ini mengusulkan bahwa lapisan berlian tersebut mungkin ada di benda-benda angkasa lain, atau bahkan asteroid yang kaya karbon, jika kondisi serupa terjadi selama pembentukannya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle