Napak Tilas Prabu Siliwangi Digelar di Depan Gerbang Perumahan

Ribuan masyarakat sunda dari beberapa wilayah di Jawa Barat Minggu, (7/5/2017) mengaku kecewa, karena pelaksanaan acara ritual adat hanya dapat dilaksanakan di depan pintu gerbang perumahan rancamaya Kota Bogor. Padahal kegiatan itu sudah diagendakan sejak lima bulan sebelumnya.

Peserta napak tilas Prabu Siliwangi kesulitan mencapai lokasi situs badigul yang konon katanya, dulu moktanya Raja Padjajaran yaitu Prabu Siliwangi. Menurut informasi yang dihimpun tim kabaronline dari beberapa sumber, lokasi situs tersebut berada di dalam kawasan perumahan Rancamaya dan management Rancamaya belum dapat memberikan izin. Dan akhirnya ritual adat dilaksanakan di depan pintu gerbang perumahan Rancamaya dengan penjagaan ketat security perumahan, kepolisian dan TNI untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kapolsek Bogor Selatan Kompol. Irwandi yang berada di lokasi mengatakan, pihaknya ikut mendukung namun terkait tidak adanya izin dari pihak polres dan pihak management Rancamaya, mungkin hanya salah komunikasi.

“Namanya ritual inikan budaya ya kita sebagai aparat mendukung saja, tapi untuk masalah perizinannya dari polres tidak ada, dari lokasi juga tidak ada makanya tidak boleh masuk,” ujar Kapolsek.

Sementara Abah Wahyu sebagai ketua pembina panitia sekaligus ketua pembina dari Baraya Kujang Padjajaran saat di temui di lokasi setelah acara ritual selesai dilaksanakan, mengatakan tujuan dari acara itu. Yaitu untuk mengingatkan kembali budaya warisan leluhur dan juga memberi ruang kepada para budayawan yang ingin menjaga sejarah budaya sunda.
“Kita ini sebenarnya didukung, Danrem mendukung, Polres mendukung, Kodim mendukung, Walikota mendukung, cuma ini di sini mentoknya. Tapi alhamdulillah acara berjalan. Mudah-mudahan ke depan Rancamaya mengizinkan,” ujar Wahyu kepada kabaronline.

Arifin Himawan salah satu perwakilan warga Bogor sekaligus mewakili ketua umum Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) mengatakan, jangan lupakan sejarah.

“Harapannya, ya kita jangan lupa dengan sejarah, kita harus hormati sejarah, dan juga jangan membuat sejarah baru dalam arti kata dengan meninggalkan ekses yang tidak baik, tapi saya yakin, para budayawan ini punya niat baik, supaya mewariskan sejarah jaman dahulu ketika jaman Prabu Siliwangi kepada anak muda,”kata Arifin.

Ahmad Jumaedi

print

You may also like...